Apa benar 13 Sial ?

Hari ini aku mendengarkan Radio PPI ang pembahasannya kenapa 13 itu no sial. terus aku cari data-data kenapa nomer 13 itu sial. beberapa situs menuliskan tulisan yang sama aku ga tau kenapa. mungkin hasil copas (copy-paste). di situ saya menemukan beberapa fakta unik mengenai kepercayaan angka 13 adalah angka sial. saya tertarik karena ada hubungannya dengan saya yang mungkin agak kurang beruntung.

komponis Jerman Arnold Schoenberg yang
lahir pada tgl 13. Selama masa hidupnya ia selalu ketakutan akan
angka 13, sehingga akhirnya ia meninggal dalam usia 76 tahun (7+6 =
13); tepatnya pada hari Jumat tgl 13, pkl 23.47 atau 13 menit
sebelum pkl 12.00 tengah malam.

(Saya juga ikut copas. maaf ya klo yang punya artikel kurang berkenan)

Ternyata saya temukan lagi fakta yang cukup mengherankan saya dan baru saya sadari. Perusahaan besar Microsoft setelah mengeluarkan Microsoft office 12 dia tidak mengeluarkan yang ke 13. kenapa? dari situ serinya di ganti menjadi Microsoft office 2007. Mungkin bang Bil juga takut ma angka 13 yaa..

Fakta lain yang saya copas

Berdasarkan laporan dari "The Stress Management Center and Phobia
Institute" di Asheville - AS, tenyata setiap hari Jumat tanggal 13,
ekonomi Amerika mengalami kerugian antara 800 s/d 900 juta AS$,
karena banyak orang yang ogah travelling, bekerja ataupun melakukan
kegiatan bisnis apapun juga.

masyarakat Tionghoa, Jepang dan Korea.
Namun mungkin dilihat dari sudut pandang yang berbeda. "Kalau
dijumlah 1+3 hasilnya 4. Dan angka 'empat' sendiri dalam bahasa
Mandarin bila diucapkan dengan intonasi berbeda (sie) bisa
memberikan 2 makna yaitu empat dan mati = sial!

Dan apabila nama Anda terdiri dari 13 abjad maka ini harus hati2
sebab para pembunuh sadis memiliki nama yang terdiri dari 13 abjad
lihat saja: Jack the Rippe, Charles Manson, Theodore Bundy dan
Albert De Salvo

Masih banyak fakta yang lain. seperti beberapa gedung bertingkat meniadakan lantai 13 atau kamar no 13

Mungkin anggapan 13 sebagai angka sial muncul dari orang kristiani. Dalam kitab suci Yudas yang menjual Yesus duduk di kursi no.13 dan Yudas menjual Yesus tepat jam 13.00.
Selain itu mungkin karena angka 13 jatuh tepat setelah angka 12 yang di anggap angka sempurna. Jumlah murid Yesus ada 12 orang. Bulan dalam satu tahun ada 12. Dewa Olympus ada 12. Angka pada jam ada 12.


Nah sekarang saya ingin bahas diri saya. saya ga lahir tanggal 13. jadi ga terlalu kawatir. saya lahir satu maret. coba di tulis angka. 1 3
Terus nama belakang saya ARDANARISWARA, hitung jumlah huruf dalam nama saya. hehehehe
bagai mana menurut anda?

dalam hidup saya ada aja kesialan yang sangat tidak terduga.
sial yang pertama saya pernah tulis di artikel Sahabatku
Sial yang ke 2 saya hampir tidak di trima di SMA manapun.
Sial yang selanjutnya saya pernah terjerumus di dunia gelap. kejahatan.
Lanjut saya di tipu agen waktu mau Belajar ke jerman
Di Jerman saya tidak di terima dimana-mana.

Bagaimana menurut anda??

[TAHUKAH ANDA?] 1 MEI = 1 JANUARI !!!

ini sekedar berbagi informasi aja..
temen2 udah pada tahu belum ya klu:

hari di 1 Mei (tahun kapanpun) = hari 1 Januari (tahun setelahnya)..

buktinya:
1 mei 2009 = 1 januari 2010 = hari jumat
1 mei 2008 = 1 januari 2009 = hari kamis
1 mei 2007 = 1 januari 2008 = hari selasa
1 mei 2006 = 1 januari 2007 = hari senin
1 mei 2005 = 1 januari 2006 = hari minggu
1 mei 2004 = 1 januari 2005 = hari sabtu
1 mei 2003 = 1 januari 2004 = hari kamis
1 mei 2002 = 1 januari 2003 = hari rabu
1 mei 2001 = 1 januari 2002 = hari selasa
1 mei 2000 = 1 januari 2001 = hari senin
...
...
1 mei 1900 = 1 januari 1901 = hari selasa
1 mei 1925 = 1 januari 1926 = hari jumat

dan seterusnya...

coba di cek aja lewat kalender hp.
mau diitung pake rumus jg boleh

Sahabatku (haruskah aku bersedih atau bergembira?)

Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, aku terlahir ga bodoh tapi berakhir bodoh. Lahir 1 Maren 1988 dengan nama Joanes de Deo Ardanariswara.

Sewaktu SD saya di tinggal sahabat dalam hidup saya ke Amerika. Ya walau aku tau dia bakal kembali. Namun rasanya berubah, dunia tak lagi berpihak ke dalam diriku. Anak kecil banget yaa?? Waktu itu ak memang masih anak kecil. Semua yang kita jalani bersama sejak ak lahir ke dunia hilang seketika berubah menjadi awal kebodohan yang bodoh. Aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, namun berubah menjadi keluarga yang makmur harta semenjak di tinggal sahabatku. Aneh yaa? Mungkin kepergian sahabatuku mendatangkan harta yang berlimpah ke dalam keluargaku. Hehehe... Tapi terasa berat buat seorang anak desa kecil dengan seribu impin hingga menjandi tanpa impian.

Bodoh Konyol yang ku rasakan saat itu kebebasan penjerumusan terjadi sejak awal kelas 3. Aku harus berjalan sendiri. Kelas 3 SD semua nilaiku anjlok, tidak pernah belajar tidak pernah memperhatikan pelajaran, tidak pernah mencatat. Dan tulisanku menjadi teramat indah Bagai benang anyaman rapuh, putus-putus kagak nyambung kagak. Sampai-sampai buku ku di buang ke tempat sampah oleh guruku. Saat itu ak selalu menyalahkan orang lain, guruku yang jadi sasaran utama. Aku kata-katain guruku, aku salahain atas nilai merahku. Maklum anak kecil, tapi ga maklum karena ak terbangun menjadi pendakwa. Selalu menyalahkan orang lain. Kehancuran yang kecil namun berpengaruh sangat besar dalam hidupku. Ak ga salahin sahabatku itu, yang salah adalah diriku sendiri. Tidak mengerti dan tidak mau di mengerti. Semua serasa milik sendiri semua terasa hidup dengan tahta raja. Mimpi yang terbangun bersama sahabat ku terbuang pergi tinggalkan seonggok sampah di bumi. Tidak ada daya untuk bangkit tidak ada daya untuk berdiri, yang ada hanya penyesalan diri. Tapi itu jalan hidupku yang harus ku lalui. Bodoh adalah kata yang di perkenalkan oleh guruku saat itu.

Waktu terus bejalan begitu hingga temanku kembali dari Amerika pada kelas 4. Aku jemput dia di bandara, dari jauh sudah terlihat lambaian tangan, namun ak seperti tak mengenal dia. Setelah dekat baru ak sadar klau dia temnku yang ak nanti. rasanya sedih, karena ak serasa telah membuatnya kecewa dengan keadaanku yang hancur setelah di tinggalkannya. namun tanggapan dia berbeda, dia memeluk ku dan memulai hari-hari kita dari awal kembali. Aku dan dia mulai menata kembali sedikit-demi sedikit menaikan nilaiku walau ga sesempurna dulu namun cukup untuk membuat aku dan sahabatku tersenyum.

tetap senyum dan melangkah!!!

BANGSA KASIHAN

Kasihan bangsa yang memakai pakaian yang tidak ditenunnya,
memakan roti dari gandum yang tidak dituainya
dan meminum anggur yang tidak diperasnya

Kasihan bangsa yang menjadikan orang bodoh menjadi pahlawan,
dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.
Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur,
sementara menyerah padanya ketika bangun.

Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan,
tidak sesumbar kecuali di runtuhan,
dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya sudah berada di antara pedang dan landasan.

Kasihan bangsa yang negarawannya serigala,
falsafahnya karung nasi,
dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.

Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya dengan trompet kehormatan namun melepasnya dengan cacian,
hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan trompet lagi.

Kasihan bangsa yang orang sucinya dungu menghitung tahun-tahun berlalu
dan orang kuatnya masih dalam gendongan.

Kasihan bangsa yang berpecah-belah, dan masing-masing mengangap dirinya sebagai satu bangsa.

oleh ~ Khalil Gibran

SEPENGGAL CATATAN KUSAM


Sidang pembaca, mohon maaf apabila Anda sekalian tidak mengetahui siapa saya apalagi mengenal. Kita memang belum pernah berjabat tangan, apalagi berciuman kening seperti gaya Habibie saat jadi presiden. Sekedar sebagai perkenalan, barangkali Anda sekalian lamat-lamat masih ingat pelajaran sejarah di sekolah. Meski serba sedikit, mungkin hanya satu dua kalimat, petualangan kami ditulis dalam buku sejarah nusantara sebagai migrasi orang-orang berkulit sawo matang.

Dengan perahu-perahu kecil yang disebut barangay, dalam gelombang besar kami meninggalkan tanah leluhur untuk bertualang mencari daerah baru. Saya adalah salah satu dari mereka. Kebetulan saya dipercaya sebagai kapten yang bertanggungjawab membawa salah satu rombongan dari Asia daratan. Sampai sekarang saya masih sering tersenyum sendiri kalau mendengar anak cucu mendendangkan lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut atau melakonkan petualangan kami dalam kesenian tradisional kethoprak tobong dengan lakon Ajisaka, meski tidak persis benar dengan apa yang kami alami sekitar 5.500 tahun lalu. Dalam cerita tersebut digambarkan bahwa pulau yang kami datangi sebagai penuh kekuatan jahat dengan dimanifestasikan dalam figur Dewatacengkar. Penggambaran itu barangkali akan lebih enak apabila dimaknai sebagai betapa banyak tantangan, rintangan dan bahkan ancaman yang harus kami hadapi.

Masih jelas betul dalam ingatan, betapa nekadnya kami serombongan. Berbagai tekanan yang setiap hari terasa semakin keras melilit, memaksa kami untuk pergi, apapun resikonya. Hanya dengan berbekal semangat untuk mencari kehidupan baru yang lebih baik, kami nekad bertualang mengarungi lautan. Suatu rahmat yang sangat bernilai ketika kami akhirnya berhasil mendarat di pulau yang oleh Clifford Geertz digambarkan sebagai perpaduan sempurna empat unsur purba, yaitu air, api, tanah dan udara. Rasanya kelelahan perjuangan kami sangatlah kecil artinya apabila dibandingkan dengan hasil yang kami peroleh. Kehidupan baru penuh harapan di tanah yang subur dengan iklim kondusif dan pantai-pantai yang menyambut dengan penuh persahabatan.

Di tanah air baru, kebetulan sebagai eks kapten, saya dipilih sebagai pemimpin teman-teman seperjuangan dan dipanggil sebagai datu. Barangkali kalau mendengar kata datu, pikiran sidang pembaca secara otomatis teringat sebutan datuk yang dipakai masyarakat Aceh atau Kedaton yang digunakan untuk menyebut istana di Jawa. Memang semuanya mengacu pada penamaan pemimpin lokal yang secara turun temurun diwariskan oleh nenek moyang kami di Asia daratan yang barangkali oleh para arkheolog dinamai primus interpares.

Dengan dada penuh harapan, kami bergotongroyong membangun kehidupan baru sesuai dengan keutamaan-keutamaan yang kami yakini. Diantara hari-hari yang penuh tetesan peluh kerja keras, kami sering berkumpul dan bertekun memohon berkah dari roh nenek moyang untuk keselamatan dan kesejahteraan bersama di dunia fana ini. Bukanlah kesalahan besar yang perlu dimintakan maaf apabila keterusterangan kami tentang pengalaman religius ini kemudian menjadikan sidang pembaca dengan serta merta mengkategorikan kami sebagai masyarakat primitif yang animis-dinamis. Kami dengan segala kerendahan hati dan kelapangan dada, akan menerima setiap kategorisasi yang akan Anda sekalian gunakan. Dalam keyakinan kami, yang namanya baik dan benar itu terikat oleh ruang dan waktu. Gaya berdoa di atas sangat mungkin cocok dan baik hanya untuk kami dan barangkali akan tidak pas apabila dijalankan oleh orang lain, seperti orang Amerika, Eropa, Timur Tengah atau bahkan oleh Anda. Oleh karena itu, kami dengan penuh kesadaran mengambil sikap untuk terbuka menerima segalanya dan hidup berdampingan secara damai dengan semua pihak, meski mereka berbeda dalam banyak kebenaran.

Barangkali diantara sidang pembaca ada yang meragukan ketulusan hati kami menerima kebenaran lain dalam iklim kemerdekaan sepenuh-penuhnya. Apabila sidang pembaca sempatkan membuka lembaran sejarah nusantara akan dengan jelas terlihat bahwa pada jaman kami terdapat banyak cara bersujud kepada Hyang Gaib. Tidak pernah terlintas dalam pikiran orang yang bertualang dalam dunia metafisik melalui tapa ngrame bahwa tapa pendhem merupakan jalan sesat dan begitu pula sebaliknya. Bagi kami, perbedaan adalah bunga-bunga kemerdekaan dalam memilih dan menjalani kehidupan.

Penghargaan dan penghormatan yang tulus juga kami berikan kepada darah daging kami yang memilih jalan hidup berbeda. Bahkan seandainya diantara mereka ada yang memilih “kebenaran Illahi” lain. Sedikitpun tak ada kedukaan ataupun umpatan kepada mereka. Dari sejarah dapat sidang pembaca saksikan restu tetap mengalir kepada keturunan kami tercinta yang bernama Kudunga di Kutai ketika memilih belajar huruf Pallawa, bahasa Sanskerta dan kemudian meyakini “kebenaran Illahi” import dari India. Perlakuan yang sama juga kami berikan kepada Raden Patah di Demak ketika memutuskan untuk belajar bahasa Arab dan meyakini “kebenaran Illahi” import dari Timur Tengah melalui tangan para pedagang Gujarat. Atau juga kepada Kyai Sadrach di Jawa Tengah Selatan ketika memilih “kebenaran Illahi” import versi Timur Tengah yang lain melalui para zending atau missionaris berkulit putih.

Sekali lagi, kami dengan tulus menghargai keputusan yang ditempuh oleh anak cucu untuk memilih “kebenaran Illahi” import, meski harus menghadapi kenyataan akan ditanggalkannya “kebenaran Illahi” yang kami temukembangkan sendiri berdasar pengalaman religius “masyarakat berkulit sawo matang”. Kamipun ikut tersenyum bangga ketika menyimak kerja keras anak cucu untuk mengawinkan aliran asli dengan alur “kebenaran Illahi” import. Bahkan kadang kami mencoba tertawa, meski rasanya hambar, ketika melihat kerja keras tersebut justru lebih banyak menghasilkan kekacauan. Maaf bila kami dianggap terlalu berterus terang. Cobalah sekali-kali menonton pertunjukan wayang purwa dan perhatikan para tokoh kahyangan yang bergelar Bathara. Sungguh merupakan kekacauan ketika keesaan, kekudusan dan keabstrakan Bathara yang menjadi inti “kebenaran Illahi” kami, tidak lagi nampak pada penggambaran pewayangan, baik yang bernama Guru, Narada, Durga maupun Kala.

Meski banyak kekacauan konseptual yang nantinya diwariskan kepada Anda sekalian, kami tetap rela bin ikhlas. Harapan kami adalah bahwa dengan penghayatan “kebenaran Illahi” import tersebut, anak cucu akan mampu memperoleh kesejahteraan duniawi dan kebahagiaan surgawi. Itupun kalau orientasi kehidupan surgawi yang dibawa oleh “kebenaran Illahi” import menjadi keyakinan Anda.

Sungguh, dalam keheningan malam, hati kami sering melantunkan kidung, semoga “kebenaran Illahi” import mampu memberi manfaat bagi pengembangan kebaikan hidup bersama. Jujur saja, doa kami bukan tentang hal-hal yang berbau “seharusnya”. Karena kalau bicara masalah “yang seharusnya” atau “yang semestinya”, semua “kebenaran Illahi” dapat menjelaskan panjang lebar tentang keutamaan dan janji-janji nikmat. Pikiran kami menukik ke masalah-masalah “yang senyatanya”, karena hanya melalui kenyataan dan fakta semua orang dapat menghitungnya secara relatif sama.

Apabila membuka buku sejarah perjalanan hidup keturunan kami, terus terang banyak masalah yang mengecewakan dan bahkan akhir-akhir ini menimbulkan sikap skeptis. Mimpi-mimpi kami ketika melakukan migrasi, seakan pupus sudah. Tindakan curang, selingkuh, pembunuhan dan perang yang begitu lekat mewarnai halaman demi halaman sejarah nusantara sejak keturunan kami menghayati “kebenaran Illahi” import, mau tidak mau membuat kami sering menangis sedih di tengah malam. Mengapa anak cucu kami memiliki kepribadian culas dan kejam? Barangkali diantara sidang pembaca yang mendalami sejarah nusantara akan dapat menyimak betapa banyak kekerasan fisik yang lahir selama bangsa nusantara di bawah pengaruh sihir “kebenaran Illahi” import. Seakan akan anak cucu kami telah berubah menjadi masyarakat beringas yang berkepribadian kejam dan memandang kekerasan senjata sebagai jalan keluar terhadap setiap masalah yang muncul.

Sungguh, hati kami sering terasa menciut ketika membuka lembar demi lembar buku harian anak cucu kami di nusantara ini selama masa dominasi “kebenaran Illahi” import berlangsung. Barangkali sidang pernah mendengar cerita bahwa Ken Arok adalah anak dewa Brahma. Terus terang, hanya kengerianlah yang mengemuka di hati kami kalau ingat cerita itu. Bagaimana tidak? Menurut pengalaman religius kami, hanya roh halus level bawah seperti gendruwo, peri priprayangan dan wewe gombel yang dapat berhubungan sex dengan manusia. Masa dewa Brahma itu selevel dengan gendruwo? Tentu mustahil bin impossible! Tapi yang lebih tidak masuk akal lagi adalah kalau cerita itu dijadikan kekuatan sekaligus pembenar kepentingan politik Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Bagaimana mungkin Ken Arok yang pembunuh dan selingkuh dengan Ken Dedes dapat layak dan pantas ditunjuk oleh Illahi untuk amurwabhumi? Apakah Hyang Illahi tidak menggunakan kriteria moral tertentu dalam memilih orang untuk memimpin? Ataukah justru orang-orang bermoral rendah yang diberkati dan memperoleh ridho untuk memimpin masyarakat? Terus terang kami tidak tahu lagi bagaimana harus mengambil sikap, apakah merupakan berkah atau bencana kalau trend dewa-raja itu dengan kuatnya mewarnai pikiran mereka yang menjadi pemimpin negeri di hampir semua periode sejarah nusantara. Tidak hanya masa dominasi “kebenaran Illahi” versi India konsep dewa-raja berkembang, tetapi juga pada masa berkembangnya “kebenaran Illahi” versi Timur Tengah. Gelar Kalifatullah pada masa yang lebih kemudian mengindikasikan usaha untuk mengkaitkan urusan politik dengan Hyang Illahi.

Meski sulit menentukan apakah merupakan pengalaman religius atau sekedar legitimasi religius, konsep pemimpin sebagai wakil Hyang Illahi mengakibatkan berkembangnya penguasa yang otoriter, karena perintahnya disejajarkan dengan perintah Tuhan. Dalam sejarah dengan jelas dapat dibaca betapa otoritarianisme berkem-bang secara tak terkendali di tanah yang sebenarnya sangat kami harapkan menjadi pusat pengembangan akal budi ini. Yang sangat menggenaskan adalah kemerosotan status kemanusiaan sebagian besar keturunan kami, sampai disepadankan dengan “slangkrah mungging jaladri” (sampah di tengah samudra).

Barangkali sidang pembaca tersinggung dan ingin menyatakan bahwa tidak ada setitikpun kesalahan dari “kebenaran Illahi” yang Anda yakini dan dengan serta merta menyalahkan kedangkalan iman, tafsir atau interpretasi warga nusantara. Boleh saja berpendapat demikian, karena sejak awal kami dengan tulus menghargai dan menghormati semua “kebenaran Illahi”, dari manapun datangnya. Sungguh, dalam doa-doa yang terlantun kami selalu berharap semoga banyaknya “kebenaran Illahi” di nusantara akan memperluas wawasan dan menyediakan banyak pilihan jalan dalam menggapai cita. Yang kami sayangkan adalah dampak ikutan yang secara nyata semakin menjauhkan kehidupan keturunan tercinta kami dari impian. Permasalahannya adalah apakah hubungan antara dampak ikutan dengan “kebenaran Illahi” import itu sebagai asap dan api.

Saat nusantara jatuh ke dalam jurang penderitaan sebagai jajahan bangsa Barat, tidak sedikit orang yang menyalahkan kerakusan kaum penjajah. Pendapat itu tidak sekali-kali salah. Tetapi bila pertanyaannya adalah mengapa bangsa nusantara dapat dijajah, jawabnya tentu karena ada sesuatu yang salah dengan perkembangan hidup dan kepribadiannya. Sesuatu yang tidak pas, sehingga bangsa nusantara tidak mampu memenangkan ketika harus berhadapan dengan Barat. Maaf pada khalayak pembaca, dalam hati kecil kami tidak dapat dipungkiri untuk menimpakan “kesalahan perkembangan” tersebut sebagai dampak ikutan “kebenaran Illahi” import. Terjadinya penjajahan merupakan indikasi nyata akan hilangnya harmoni kehidupan. Harmoni hanya akan muncul kalau terdapat equilibrium antar semua jagad kehidupan, baik jagad fisik, sosial maupun metafisik. Penjajahan Barat menjadi pertanda yang jelas bahwa anak cucu kami telah mengabaikan jagad sosial ekonomi. Pertanyaannya adalah siapakah kalau bukan “kebenaran Illahi” import, yang mencetak pikiran keturunan kami sehingga meyakini bahwa hal terpenting dalam hidup ini adalah menyiapkan diri sebaik mungkin untuk memasuki kehidupan setelah mati? Ungkapan urip iku mung mampir ngobe atau hidup ini hanya sepenginang menurut hemat kami merupakan kesimpulan yang sangat mendalam tentang betapa tidak berharganya kehidupan duniawi dibanding kehidupan setelah mati. Terus terang perubahan pola pikir itu merupakan pukulan yang sangat berat bagi generasi kami. Harapan kami saat melakukan migrasi untuk mengembangkan kehidupan melalui penguasaan teknologi kelautan telah terpinggirkan oleh model pertanian subsisten yang berproduksi hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok. Rasanya mata ini menjadi nanar ketika harus menatap realitas bahwa anak cucu kami lebih bangga berdendang lagu Menanam Jagung daripada Nenek Moyangku Seorang Pelaut.

Dengan penuh kebimbangan, hati kami sering bertanya apakah keterpinggiran, kemiskinan, keterbelakangan dan keterjajahan akan dapat diakhiri dengan jalan meman-faatkan sebagian besar energi hidup untuk meretas jalan ke kehidupan setelah mati? Terus terang, kami sangat khawatir akan berulangkalinya penjajahan di nusantara dan anak cucu kami hanya menjadi bulan-bulanan bangsa lain.

Diantara wajah buram sejarah nusantara, pernah juga muncul kegembiraan yang mampu membangkitkan harapan bahwa keturunan kami akan kembali ke “jalan yang seharusnya”. Kami sungguh bangga ketika menyaksikan Soekarno dalam pledoinya berjudul Indonesia Menggugat dengan lantang mengatakan bahwa Indonesia telah dijajah Belanda selama 350 tahun dan sudah saatnya untuk mengakhiri. “Sebuah revolusi pemikiran secara besar-besaran sedang berlangsung” seru kami saat menyimak setiap kata dalam paragraf pergerakan nasional. Mulut ini tak tertahan lagi untuk meneriakkan pekik “Renaissance of Nusantara“ saat kami menemukan kecenderungan semakin kuatnya semangat eksplorasi terhadap kehidupan duniawi dan semakin menurunnya intensitas petualangan di dunia metafisik. Hati ini rasanya tak sabar untuk menantikan selangkah lagi perjuangan mereka untuk sampai mengatakan “Kalau Belanda menjajah 350 tahun, maka “kebenaran Illahi” import telah menjajah selama dua milenium dan sudah saatnya diakhiri”. Tapi... meski tinggal selangkah, ternyata harapan kami seakan tinggal harapan. Indonesia memproklamasi-kan diri hanya untuk kemerdekaan politiknya, tetapi masih lestari menikmati keterjajahan ideologis.

Hati kami semakin tersayat saat menatap keturunan kami bentrok dan bahkan saling bunuh, maaf beribu maaf, hanya untuk membela “kebenaran Illahi” import. Pertempuran Maluku, Poso, Mataram dan juga merebaknya bom merupakan serpihan peristiwa sejarah yang menjelaskan betapa banyak darah harus dikorbankan oleh keturunan kami. Kegeraman hati kami adalah mengapa hal itu terjadi pada anak cucu kami tercinta di negeri yang kami impikan menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya harmoni kehidupan bagi semua jenis bunga perbedaan?

Di era reformasi ini, kami ingin sekali untuk berkumpul dan berbincang sebagai keluarga dengan semua anak cucu. Dari hati ke hati dan melalui keluhuran budi, kami ingin memperoleh jawaban tentang gambaran “Indonesia Raya” yang dibayangkan oleh seluruh keturunan kami. Apakah kekelaman hidup bangsa nusantara selama ini belum cukup meyakinkan untuk landasan refleksi dan menemukan “jalan terang” menuju “Indonesia Raya”? Apakah coreng moreng wajah sejarah nusantara belum cukup membuktikan bahwa “kebenaran Illahi” import yang selama dua milenium mendominasi tidak lagi memadai untuk dijadikan kendaraan menuju cita-cita?

Kadang hati ini dipenuhi kegeraman bila melihat keturunan kami begitu lambat melangkah. Entah karena lambat dalam menyadari atau takut melakukan perubahan. Sebenarnya, ketakutan dalam mengambil resiko itu tidaklah perlu terjadi. Dari sejarah, kita dapat menyimak keberanian Kudunga menjalankan trial and error ketika mengganti “kebenaran Illahi” asli dengan “kebenaran Illahi” versi India. Begitu pula trial and error yang dilakukan Raden Patah ketika pada abad ke-15 mengganti “kebenaran Illahi” versi India dengan “kebenaran Illahi” versi Timur Tengah. Oleh karena itu, apabila secara rasional disadari bahwa “kebenaran Illahi” versi Timur Tengah tidak lagi memadai sebagai kendaraan, anak cucu tidak perlu gamang apalagi takut untuk memodifikasinya atau bahkan mencari kendaraan lain. Bahkan bukan pula merupakan kehinaan seandainya harus menciptakan kendaraan baru. Atau bukan pula memalukan seandainya menganggap “kebenaran Illahi” asli lebih cocok. Barangkali yang tidak perlu terulang adalah teror seperti yang menimpa warga Majapahit, sehingga mereka terpaksa mengungsi ke Bali.

Apapun kendaraan yang dipilih atau bagaimanapun modifikasi dilakukan, selama dengan pertimbangan akal sehat, tentu akan memperoleh kemajuan. Tidak perlu takut salah pilih, karena kesalahan adalah peristiwa manusiawi. Saat memulai petualangan, kami memimpikan untuk memperoleh kehidupan lebih baik dengan mengutamakan kebebasan untuk menjadi diri sendiri dengan bingkai harmoni antara dunia fisik, sosial dan metafisik. Kami berusaha membangun masyarakat yang terbuka secara rohaniah dan memandang setiap bentuk kebenaran sebagai belum final. Oleh karena itu, kami sangat sedih ketika diantara anak cucu ada yang mensakralkan suatu kebenaran dan bahkan menjadikannya bagai mantra-mantra sakti. Lebih menggenaskan lagi apabila berkembang sikap menutup diri terhadap kebenaran lain dan menjadi kerdil oleh klaim bahwa kebenaran miliknya sebagai kebenaran absolud. Sungguh, kami sangat khawatir apabila kekerdilan jiwa itu berkembang di hati anak cucu.

Akhirnya, saya memberanikan diri mengucapkan selamat berjuang untuk menjadi diri sendiri kepada seluruh anak cucu yang masih sempat menghirup udara segar reformasi. Semoga perjuangan Anda tidak terlambat dan nusantara yang saat ini koma dapat terselamatkan.


Catatan

  1. 1. Pulau yang dimaksud adalah Pulau Jawa. Lihat Clifford Geertz, Involusi Pertanian. (Jakarta, Bhatara)
  2. 2. Tentang legitimasi religius lihat Frans Magnis Suseno, Etika Politik: Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern. (Jakarta, Gramedia)




oleh : Sastrosukamiskin


WARKOP


Anda tentu masih ingat dengan lawakan Warkop Prambors Jakarta. warkop tersusun dari 4 personil Dono(alm), Kasino(alm), Indro, dan Nanu(alm). mereka meng hibur dengan awakan-lawakan kas warkop. banyak lawakan yang menyerupai warkop namun tetap warkop yang sudah mendarah daging di duna perlawakan. berikut ini adalah karya beliau-beliau. semoga anda terhibur.





Makin tipis Makin Asyik
Mana Tahan
Warung Tenda
Pokoknya Betul
Melek Hukum (side A)(side B)

<script src="http://kumpulblogger.com/sca.php?b=66403" type="text/javascript"></script>

The Smell of Rain - Kisah Perjuangan Hidup Bayi Prematur ke Dunia ini


Pada malam yang dingin di bulan maret dan angin berhembus di kegelapan malam di Dallas amerika. Dan seorang dokter melangkah masuk ke dalam ruangan dimana Diana Blesing di rawat. Diana masih merasa pening akibat dari efek operasi. Diana baru saja dioperasi.

Suaminya David mengenggam tangannya dan berusaha menahan emosinya atas berita yang baru saja di dengarnya.
Siang itu pada tanggal 10 maret 1991, Diana mengalamai komplikasi pada kandungannya. Di usia kandungan baru 24 minggu dia harus menjalani operasi Caesar untuk mengeluarkan bayi di dalam kandungannya.Maka lahirlah anak Perempuan pasangan itu, yang bernama Dana Lu Blesing. Yang hanya 12 inci dan beratnya hanya satu pound sembilan ons (0.86 kg)
Dan perkataan dokter yang lembut rasanya seperti bom bagi mereka. Dokter mengatakan dengan sebaik-baiknya ” Saya tidak yakin, anak ini akan dapat bertahan”

Hanya ada kemungkinan 10 persen, dia kan melewati malam ini. Dan jika dapat bertahan, hanya ada kesempatan yang sangat kecil dia dapat bertahan, masa depannya akan sangat kejam.
Dengan rasa tidak percaya, David dan Diana mendengarkan apa yang dokter jelaskan tentang sesuatu yang sangat buruk. Dana sangat tidak mungkin untuk selamat.

“Dana tidak akan dapat berjalan, dia tidak akan dapat berbicara, dia kemungkinan akan buta, dan dia pasti akan mudah untuk dapat menderita catastrophic (masalah besar) dari Celebral plasty ( idiot) dan penghambatan perkembangan mental dan lain sebagainya.”

” Tidak mungkin” Kata Diana tidak percaya
Dia dan David suaminya dan anak lelakinya Dustin yang berumur 5 tahun, telah lama mendambakan seorang putri di dalam anggota keluarganya.

sekarang mimpi itu telah terwujud….
Tetapi setelah hari itu berlalu, dan penderitaan baru di dalam keluarga itu.

Karena Dana mengalami pertumbuhan system sel saraf yang sangat lambat sehingga cahaya atau sentuhan dapat membuat dia merasa kesakitan ( tidak nyaman), jadi mereka tidak dapat menggendong bayi mungil itu di dada.. Dan memberikan rasa cinta yang besar

Semua mereka lakukan untuk berdoa supaya Tuhan mau berjaga di dekat putrid mereka yang berharga, dan dana berjuang sendirian dibawah lampu sinar ultraviolet di dalam incubator.
Mereka tidak melupakan bagaimana dana bertumbuh dan akhirnya menjadi semakin kuat.

Minggu demi minggu berlalu, Dana tumbuh dengan lambat tetapi pasti. Berat dan kekuatannya juga semakin bertambah

Akhirnya setelah dana berusia dua bulan. Mereka mendapatkan ijin untuk menyentuh dana dengan tangan untuk pertama kalinya.

Dan dua bulan kemudian, dokter memperingatkan dengan lembut kemungkinan yang suram yang akan terjadi, kesempatannya sangat kecil untuk bertahan dan hidup dengan normal. Semuanya sangat kecil sekali. Dan Dana bisa di bawa pulang dari rumah sakit, seperti yang diinginkan ibunya..

Lima Tahun kemudian, Dana telah menjadi seorang gadis kecil yang mungil dengan mata abu-abunya yang cerah dan semangat hidup yang luar biasa.

Tidak ada tanda-tanda akan mengalami suatu gangguan mental atau fisik yang akan di deritanya. Dia seperti gadis kecil yang normal dengan segala aktifitasnya. Tetapi cerita tidak berakhir disini.

Di suatu siang yang panas, pada musim panas tahun 1996 di dekat rumah mereka di Irving, Texas. Dana sedang duduk di pangkuan ibunya, di sebuah lapangan bola setempat, dimana saudaranya Dustin sedang latihan baseball bersama teamnya,
Seperti biasa, Dana mengoceh tanpa henti kepada ibunya dan beberapa orang dewasa duduk di dekat mereka ketika tiba-tiba Dana terdiam. Dana memeluk tangan ibunya dan merangkulkannya ke tubuh mungilnya. Lalu ia bertanya..
“Mama,… mama mencium sesuatu…?
Mamanya mencoba membaui udara dan berusaha mendeteksi akan mendekatnya badai.
“Ya,… Baunya seperti akan hujan…” Diana menjawab
Dana memandang mata ibunya dan bertanya lagi
“Mama mencium baunya …”

Sekali lagi ibunya mejawab ” Ya… saya pikir nanti akan hujan. Karena baunya seperti hujan.”
Masih dalam dekapan ibunya, Dana mengelengkan kepalanya dan menepuk pundak ibunya dengan tangan mungilnya. Dengan perlahan dia mengatakan
“Bukan, Baunya seperti DIA…”

Itu baunya TUHAN, ketika kamu medekap ke dadaNYA…

Air mata mengalir ke pipi Diana karena Dana karena kebahagian
dan pertolongan sehingga dana dapat seperti anak lainnya.
Sebelum hujan turun, perkataan Dana mengingatkan Diana akan keberadaan Dana dalam keluarga itu, di dalam hatinya selama ini.

Pada saat hari-hari yang panjang di dalam dua bulan pertama kehidupan Dana, ketika system sarafnya sensitive terhadap sentuhan sekalipun. Pada saat Dana tidak dapat di dekapnya di dalam pelukannya sekalipun ibunya sangat menginginkanya.
TUHAN telah mendekap Dana di dalam pelukanNya dan menjaganya. Dan Bau Cinta Tuhan yang telah diingat oleh Dana sangat baik.

“Saya dapat melakukan segala sesuatu di dalam Dia yang telah memberikan aku kekuatan”
Pagi ini ketika Tuhan membuka jendela surga, Dia melihat aku dan bertanya: “AnakKu apa hal terbesar yang kamu inginkan hari ini?,
Dan aku menjawab,” TUHAN perhatikanlah orang yang telah membaca pesan ini, keluarganya dan sahabatnya. Mereka pantas mendapatkanya dan sayangilah mereka dengan sungguh, Cinta Tuhan itu seperti Lautan kamu dapat melihat awalnya, tetapi tidak pada akhirnya. Karena lautan tidak berujung.”

Aku Salah

Aku salah lagi. Memang di matamu selalu salah. ya mau gi mana lagi kamu tidak bisa melihatku. Kamu selalu melihat semua orang bisa melakukan sempurna untukmu. Kenapa kamu pilih aku? Mungkin supaya kamu bisa menikmati semuanya. tanpa terlihat aku. tanpa tercurigai tanpa dan tanpa. Tapi aku tak mau berfikir konyol lagi. Aku yang sendiri Menunggu supaya bisa sedikit bertanya kabar.

Aku di sini dengan hentakan-hentakan tangan menuliskan setiap kata untuk menunggumu kamu anggap salah. Kamu pikir aku ga ada buat kamu? aku menunggumu sembari menuliskan kata-kata tak berguna di depan laptop, menunggumu supaya aku bisa bertegur sapa, menanyakan kabar, kamu anggap salah? kamu anggap lebih mementikan tulisan sekadarnya ini dari pada kamu?

Kenapa kata-katamu menusukku? kenapa kamu harus katakan itu. aku menunggumu, yang berjalan-jalan dengan teman-temanmu, yang makan-makan kesana kesini.

ak ga protes dengan menunggumu. tp kenapa kamu protes dengan caraku menunggumu ya? caraku menunggu yang di sambil menulikan tulisan tak berarti.

Apa yang harus ku lakukan?


Iya memang aku ga bisa memberimu apa-apa. Aku cuma orang tak berdaya berjuang membangun hidup. bahkan untuk berjumpa kamu aja susah. bahkan cuma bisa membuatmu menangis. cuma bisa mengucapkan kata kangen, sayang.


aku ga tau harus ngomong apa lagi. jika cara menungguku salah, haruskah aku berdiam diri melamun menatap layar YM yang masih kosong?

aku ga mengerti maksut kata-katamu itu, aku ga mengerti apa maumu.

Haruskah kehilangan?

Dari dulu sampai sekarang budaya indonesia banyak yang di aku-aku oleh negara lain. Mungkin Pembelajaran penting bagi kita bangsa yang kaya budaya ini. Sekarang orang Indonesia justru lebih senang dengan budaya asing, yang cenderung menjadi budaya miskin. Mungkin ini salah satu sebab tidak langsung kenapa perekonomian indonesia menjadi miskin. Kita yang kaya budaya tidak mau menjaga dan melestirakian budaya sendiri. Hanya saat negara asing sudah mengaku-aku kita baru menggembor-gemborkan bahwa itu budaya Indonesia. Ketika para gadi-gadis indonseia lebih suka menggunakan baju sexy-sexy daripada pakaian adat, Ketika para laki-laki lebih suka dengan jeans lobang lututnya, ketika musik rock lebih terkenal dari pada musik tradisional. Mulailah luntur rasa memiliki budaya Indonesia. Namun ketika negara asing mencoba merebut kita cuma bisa koar-koar mulut tanpa mencoba kembali ke budaya kita.

Sekarang ini banyak warga asing yang mencoba memperhatikan budaya Indonesia. Budaya yang di anggap wah buat mereka dan di anggap katrok buat kita sendiri. Bagaimana rasanya jika anda di suruh memagang alat pukul gamelan. apakan anda bisa memukul membentuk nada-nada yang harmoni? Ketika anda di minta menggunakan pakaian adat anda selalu mengeluh kepanasan. ketika anda di minta menggunakan selendang anda mengumam tidak bebas bergerak.

Apa yang anda rasa jika melihat gambar ini?
blog

blog
Kemungkinan pertama anda bangga karena warga asing mau belajar adat kita. kita bangga karena warga asing juga mencintai Indonseia. Kemungkinan ke-2 kita prihatin karena warga asing lebih bisa daripada kita, kita prihatin karena warga asing lebih cinta budaya kita daripada kita sendiri
Dan yang pasti paling banyak adalah gabungan keduanya.

Orang akan menyadari betapa petningnya suatu barang apabila barnag itu sudah hilang. apakah kita juga begitu kepada budaya kita? haruskah budaya kita menjadi milik negara lain baru kita bisa mencintai budaya kita?

ini ada sebuah video pendek warga negara asing yang sudah hidup di Indonesia dan mengapdikan diri untuk Indonesia.


Mulai sekarng cobalah mencintai sebelum kau menyesali.

Jurang Hidup

Aku sangat menyesal jikalau setiap keputusanku berakibat kesalahan besar dalam hidupku. tapi sayang hidup tak bisa di ulang. Dimana ak memilih jalan yang sering kali salah. dimana saya selalu jatuh di lubang yang sama yang membuatku hancur dalam pilihanku sendiri. segala angan-angan kadang hilang begitu saja. Meninggalkan penyesalan, meninggalkan jasad yang tak membusk ini. Ketika aku harus jatuh dalam jurang yang dalam aku tak bisa bangkit berdiri, mendaki lagi jurang yang teramat dalam. karena luka-luka yang aku rasakan sakit sekali.

Pilihan hidup mebuat aku harus jatuh di jurang yang teramat dalam. Dan jurang ini membuat aku kadang patah arang. Bagai mana aku bisa menjalani hidup yang indah?

Mungkin anda adalah orang yang senasib dengan saya. yang merasakan selalu gagal, selalu jatuh di jurang kegagalan, yang membuat anda turun mental. Disini saya akan sedikit memberi pengalaman saya bagamana saya selalu smangat dalam menjalani hidup.

Ketika saya ingin kuliah saya gagal dalam sebuah ujian. Padahal saya sudah belajar siang malam tak kenal waktu. Saya kecewa dengan kegagalan itu, karena membuat saya harus lebih bekerja extra untuk melanjutkan hidup. Bukan hanya untuk menanggung ujian berikutnya, tetapi juga untuk menanggung biaya ekonomi diriku sendiri, karena biaya yang sangat besar dan orang tua juga membiayai adik-adikku yang tidah sedikit nilainya. Saya liat di tabungan saya tinggal cukup buat hidup satu minggu saja dengan meminimkan pengeluaran saya mencoba mencari pekerjaan, selain itu saya juga harus belajar. Yang seharusnya saya les untuk memperdalam ilmu saya tidak bisa melakukan itu karena uang saya tidak cukup. sayapun sempat menangis. Saya mencoba kuat-kuatin sekuat hati. Akhirnya saya mendapatkan pekerjaan. saya jalani pekerjaan itu, eh ternyata saya ketipu, gaji yang di beri tidak sebanyak yang di janjikan. dan tidak cukup buat menanggung hidup saya. Namun saya bersyukur paling tidak menambah waktu saya untuk lebih berusaha.

Suatu etika saat saya menyewa sebuah rumah murah ternyata saya mendapatkan tuan rumah yang sangat baik. dia memberiku pekerjaan yang mebuat saya bisa melanjutkan hidup. Dari situ saja mencoba menata kembali hidup saya yang talah hancur oleh jurang-jurang hidup. Dari pengalaman yang saya dapati saya banyak belajar mengenai hidup, jauh dari bayangan saya yang hidup bahagia dengan ilmu-ilmu yang saya dapatkan di jenjang universitas.

Disini saya belajar bagaimana susahnya mencari uang, saya belajar menghemat pengeluaran, belajar menghargai waktu, belajar melakukan pekerjaan dengan sebaik-sebaiknya, saya belajar untuk bangkit dari jurang-jurang hidup. Jauh dari bayangan saya mengenai pembelajaran hidup.

Mulai sekarng cobalah anda pikirkan sisi positif apa yang anda dapatkan. Jauh lebih berati daripada bayangan anda. Taukan anda setiap jurang yang anda hadapi membuat anda jauh lebih bisa belajar. Disini saya membuat anda lebih merasakan arti hidup sesungguhnya. Yakinlah jika anda bisa bangkit dari jurang-jurang itu anda mendapatkan hasil yang jauh lebih indah dari yang anda bayangkan. Tuhan bisa melihat jauh lebih indah daripada yang anda liat.

Semoga pengalaman saya ini bisa membuat anda lebih bersyukur atas setiap keberhasilan anda mendaki setiap jurang. karena jurang ini anda bisa melihat dataran yang lebih indah.

Garuda di dadaku

Burung Garuda melambangkan kekuatan Warna emas pada burung Garuda melambangkan kejayaan Perisai di tengah melambangkan pertahanan bangsa Indonesia Warna merah-putih melambangkan warna bendera nasional Indonesia. Merah berarti berani dan putih berarti suci Garis hitam tebal yang melintang di dalam perisai melambangkan wilayah Indonesia yang dilintasi Garis Khatulistiwa Jumlah bulu melambangkan hari proklamasi kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 1945), antara lain : Jumlah bulu pada masing-masing sayap berjumlah 17 Jumlah bulu pada ekor berjumlah 8 Jumlah bulu di bawah perisai/pangkal ekor berjumlah 19 Jumlah bulu di leher berjumlah 45 Pita yg dicengkeram oleh burung garuda bertuliskan semboyan negara Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika yang berarti “berbeda beda, tetapi tetap satu jua”. Simbol-simbol di dalam perisai masing-masing melambangkan sila-sila dalam Pancasila, yaitu:
  1. Bintang melambangkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Rantai melambangkan sila Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
  3. Pohon Beringin melambangkan sila Persatuan Indonesia
  4. Kepala banteng melambangkan sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan
  5. Padi dan Kapas melambangkan sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Lagu Garuda Pancasila
Garuda pancasila
Akulah pendukungmu
Patriot proklamasi
Sedia berkorban untukmu
Pancasila dasar negara
Rakyat adil makmur sentosa
Pribadi bangsaku
Ayo maju maju
Ayo maju maju
Ayo maju maju



Bookmark and Share

Indonesia Punya Angklung

Aklung adalah alat musik tradisional dan kini telah di kembangkan sehingga sesuai kemajuan jaman. Seberapa di hargai angklung di Indonesia? Saya masih jarang melihat angklung di panggungkan. Anak-anak muda lebih cenderung melihat suatu hasil baik jika menyerupai luar negri yang memang kaya raya. Disini kita akan melihat keberhasilan ga selalu di ukur dari kekayaan. Karena kebodohan bangsa Indonesia nyaris bangsa lain merebut kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia. yang sungguh sangat menabjubkan.

Angklung alat yang terbuat dari bambu mampu mengagumkan orang-orang Luar negri.
Jaga terus Kebudayaan Indonesia

ARGENTINA


HOKAIDO JEPANG


HAMBURG JERMAN


masih banyak yang lain..
sekarang bagai mana kita mengembangkan dan mencintai Produk dalam d=negri ini..
Masa depan ankklung di tangan kalian

Tarian daerah Aceh

Aceh Adalah suatu daerah di Indonesia yang penyai cirikar berbeda, gabungan melayu arab, adalan dasar budaya merka. tarian-ariannya pun menampilkan suatu tampilan yang berbeda. Ieindahan gerakan dan hentakan smangat tabuhan membuat tarian dari aceh sangat menarik di nikmati. Berikut ini adalah contoh tarian yang berasal dari aceh.



1. TARI SEUDATI

Seudati berasal dari kata yahadatin yang mengandung mana pernyataan atau penyerahan diri memasuki agama Islam dengan mengucapkan dua kalima syahadat. Tari Seudati dimainkan oleh 8 orang laki - laki atau 2 orang aneuk syeh (Syahie) yang bertugas mengiringi tarian dengan syair dan lagu. Seluruh gerakan dari seudati berada dibawah pimpinan seorang syeh seudati.

Musik dalam tarian seudati hanya berupa bunyi yang ditimbulkan dari hentakkan kaki kritipan jari penari dan tepukan dada yang diselingi dengan irama syair lagu dari anak. syeh. Didalam tarian seudati jelas tergambar semangat perjuangan dan kepahlawanan serta sikap kebersamaan dan persatuan dengan gerakan lincah dan dinamis.

Tarian seudati pada saat ini selain berfungsi sebagai hiburan rakyat juga merupakan simbol kekayaan seni budaya Aceh Utara sekaligus sebagai media penyampaian pesan - pesan pembangunan kepada masyarakat. Tarian ini juga sering dipertandingkan dikenal dengan istilah Seudati Tunang yang kadang-kadang berlangsung sampai menjelang subuh.

2. TARI POH KIPAH

Tari Poh Kipah merupakan seni tari tradisional Aceh Utara yang menunjukkan gerakan - gerakan memukul kipas dengan rytme yang unik dan mengagumkan. Kipas yang digunakan dalam tarian ini adalah kipas yang dijalin khusus, terbuat dari pelepah pinang yang terdiri dari 3 atau 4 lapis yang menimbulkan bunyi yang nyaring dengan berbagai tepukan yang bervariasi sesuai dengan irama gerak dan lagu yang dibawakan.Tari Poh Kipah ini mengandung pesan - pesan keagamaan dan pembangunan dan lazimnya disajikan pada saat memperingati kelahiran Rasulullah SAW (Maulid Nabi) dan hari besar Islam lainnya.

3. BIOLA ACEH

Kesenian biola ini telah cukup lama berkembang di Aceh Utara, setelah berkembangnya tari seudati, kesenian biola Aceh Utara pada saat ini telah menjadi satu jenis hiburan rakyat yang sangat diminati. Kesenian ini dimainkan oleh 3 orang pria, masing - masing 1 orang bertindak sebagai violis yang disebut syeh, sekaligus merangkap sebagai vokalis. dua orang lagi berfungsi sebagai penari dan pelawak yang berperan sebagai linto baro dan dara baro (suami isteri) yang melakukan gerak tari dan banyolan sesuai dengan irama.

Ciri khas kesenian ini adalah tarian, cerita (dialog) dan berbalas pantun dengan ungkapan-ungkapan yang lucu menggelikan dan penuh humor serta warna-warni pakaian yang kontras membuat kesenian ini benar-benar mengasyikkan.

4. RAPAI PASAI (ZIKIR)

Diperagakan dengan alunan syair - syair yang agamais dan sakral dengan komposisi rapai kecil di depan dan rapai ukuran besar digantung dibelakang. Rapai - rapai kecil sebagai pendukung, seluruh permainannya berbaris melengkung dengan pakaian yang khas yang dipimpin oleh seorang khalifah dengan penyajian syair yang sinkron dengan irama tabuhannya.

5. RAPAI DABOH (DEBUS)

Penampilan rapai daboih, titik utamanya adalah pada kemahiran spritual dalam menggunakan senjata tajam dengan berbagai ketangkasan yang cukup menegangkan dan mendebarkan. Pada rapai daboh yang dipertandingkan (Urouh) setiap pihak minimal satu kuru (12 rapai) dan maksimal 5 kuru (60 buah rapai). Pihak-pihak yang bertanding membentuk lingkaran dan diatara kedua pihak dibuat tanda batas. Ditengah - tengah pemain ada seorang khalifah mengangkat tangan tinggi - tinggi, terdengarlah teriakan melengking yang diikuti dengan suara tabuhan, secara serentak, yang dilanjutkan dengan zikee (salam selamat datang).

Pada saat - saat pukulan rapai dimulai cepat, tampilan para pemain debus dengan kemahiran dan keberanian yang cukup tinggi dalam menggunakan senjata tajam dan membakar diri dengan api yang membuat setiap penonton menahan nafas. Apabila ada pemain debus yang mengalami cedera atau luka dalam atraksi tersebut, (karena kesalahan dalam memukul rapai, atau pihak lain yang ingin mencoba ketinggian ilmunya) Khalifah akan segera turun tangan, dengan hanya menyapu bagian yang terluka dengan tangan khalifah, darah akan segera berhenti mengalir dan dengan serta merta luka itupun lenyap seketika.

Pertunjukan bercanda dengan maut ini biasanya berlangsung sampai dini hari atau menjelang subuh.

6. RAPAI LAGEE

Kesenian rapai tradisional ini berasal dari Kandang Kecamatan Muara Dua dan Paya Bakong Kecamatan Matangkuli yang biasanya ditampilkan pada upacara-upacara adat, upacara resmi pemerintah serta pada hari-hari besar Islam dan sebagai hiburan rakyat yang bersifat sosial. Pertunjukan rapai ini dipimpin oleh syeh yang duduk berbaris diantara 12 prang penabuh, dengan pakaian khas rapai yang berwarna kontras. Lagu atau syair yang dibawakan menyerupai syair seudati yang bertujuan untuk membangkitkan semangat patriotisme, persatuan, gotong royong serta diiringi dengan pantun jenaka dan terkadang romantis, namun tetap bernuansa agamais.





Bookmark and Share

Browies Cinta


Segala bentuk tindakan harus di awali dengan niat dan Cinta. Resep brownies cinta ini di buat juga dengan penuh cinta. kelezatannya sudah teruji hingga turu temurun. Anda tidak akan kecewa mencoba resep brownies cinta ini.




Bahan :
Telur 6 butir
Gula 225 gram
Vanili secukupnya
Garam secukupnya
Emulsifier 1/2 sdt teh
Terigu 125 gram, ayak, aduk rata dg coklat bubuk
Coklat bubuk 50 gram, ayak, aduk rata dg terigu
Minyak 175 ml
Dark Cooking Cokelat 100 gram, lelehkan, campur dg minyak
Susu Kental Manis 75 ml

Cara membuat
  1. Kocok telur dan gula ingga mengembang
  2. Masukan Tepung terigu dan coklat yang sudah di campur rata sebelumnya
  3. Masukan Dark Cooking Coklat yang sudah di lelehkan
  4. sisihkan 1/3 bagian adonan
  5. 1/3 adonan itu di campur dengan Susu Kental Manis
  6. Sisa adonan tanpa susu kental manis di bagi dua.
  7. Bagian pertama di masukan loyang dan di kukus selama 10 menit
  8. kemudian tambahkan adonan yang dengan susu kental manis dan kukus lagi selama 10 menit
  9. terakhir masukan bagian ke 2 adonan tanpa susu kental manis dan kukus selama 20 menit
  10. angkat dan sajikan
Selamat Menikmati Brownies Cinta alah Mbah Cinta





Bookmark and Share

Semakuk Bakso

Ani gadis kecil anak pertama dari dua bersaudara. Ibunya selalu bangun pagi ketika ani ulang tahun untuk memasak masakan kesukaan ani. Setelah ani bangun tidur pasti masakan ibunya sudah tertata rapi di meja makan dengan keluarga kecilnya duduk mengelilingi meja makan. Kata selmat ulang tahun terdengar menyambut ani yang berjalan ke meja makan dan memberikan kado untuk ani.

Suatu hari tepat hari ulang tahun ani, betapa kecewanya dia melihat meja makan yang kosong. tah ada makanan kesukaan ani, tak ada keluarga yang duduk di ditu. Kesal, Marah, Jengkel, Sedih terukir di pikiran ani saat itu. "Huh, ibu sudah tidak sayang lagi padaku. Sudah tidak ingat hari ulang tahun anaknya sendiri, sungguh keterlaluan," gerutunya dalam hati. "Ini semua pasti gara-gara adinda sakit semalam sehingga ibu lupa pada ulang tahun dan makanan kesukaanku. Dasar anak manja!"

Sampai siang tidak seorangpun orang rumah yang peduli padanya. Semakin jengkel lah ani melihat, merasakan semua itu. Tak ada seorangpun yang menyapa, memberi selamat, ciuman ataupun kado di hari ulang tahunnya. Dengan perasaan sedih jengkel dia pergi meninggalkan rumah, dengan berjalan tanpa tujuan, hingga akhirnya perut kosong pun mulai memberontak, rasa lapar sangat di rasakan oleh ani. dia melihat di seberang jalan ada sebuah gerobak bakso dan penjualnya yang dang melayani pembeli. Ani melihat kepulan asap dan aroma bakso yang sangat menggoda seleranya, apa lagi dengan perutnya yang kosong. Dia menatap terus semangkuk bakso yang di sajikan ke pembelinya.

Tiba-tipa abang tukang bakso menyapanya "Mau beli bakso neng?".

"Mau, bang. Tapi saya tidak punya uang," jawabnya tersipu malu.

"Bagaimana kalau hari ini abang traktir kamu? Mari neng duduk, abang sajikan bakso paling enak"

Ani pun duduk di dekat gerobak bakso itu.
Setelah makan bakso itu ani pun ter sendu-sendu meneteskan air mata.

"lho kenapa neng?, tidak enak ya baksonya?" abang bakso menanggapi tangisan ani

"Saya jadi ingat ibu saya, bang. Sebenarnya... hari ini ulang tahun saya. Malah abang, yang tidak saya kenal, yang memberi saya makan. Ibuku sendiri tidak ingat hari ulang tahunku apalagi memberi makanan kesukaanku. Saya sedih dan kecewa, bang."

"Neng cantik, abang yang baru sekali aja memberi makanan bisa bikin neng terharu sampai nangis. Lha, padahal ibu dan bapak neng, yang ngasih makan tiap hari, dari neng bayi sampai segede ini, apa neng pernah terharu begini?" sahut abang abang bakso itu.

Anipun tersentak sebntar, saat itu juga dia berterimakasih kepada abang tukang bakso dan bergegas pulang. Diapun berlari menuju arah rumah setelah memencet bel, ibunya membuka langsing memeluk ani. wajah ibunya yang cemas berubah menjadi wajah lega.

"Ani, dari mana kamu seharian ini, ibu tidak tahu harus mencari kamu ke mana. Ani, selamat ulang tahun ya. Ibu telah membuat semua makanan kesukaan kamu. Ani pasti lapar kan? Ayo nikmati semua itu."

"Ibu, maafkan Ani" Ani pun menangis dan menyesal di pelukan ibunya. Dan yang membuat Ani semakin menyesal, ternyata di dalam rumah hadir pula sahabat-sahabat baik dan paman serta bibinya. Ternyata ibu Putri membuatkan pesta kejutan untuk anak kesayangannya itu.


Catatan Kecil

Apa yang ada dalam benak anda sekarang? Terkadang memang suatu pertolongan kecil lebih terlihat atau terasa oleh anda. Dari pada pertolongan besar. ada pepatah "Semut di seberang tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak" Terkadang kita tidak berterimakasih pada pemberian, bantuan, atau apapun yang besar. Terlebih kepada orang tua yang sudah memberikan banyak hal kepada kita. Kita sering memvonis ketika orang tua tidak bisa memberikan apa yang kita harapkan.

Kita butuh untuk belajar dan belajar mengendalikan diri, agar kita mampu hidup secara harmonis dengan keluarga, orangtua, saudara, sahabat dan dengan orang lain.

Berguna Lebih Teringat

Bagi saya sebenarnya lebih mudah mengingat hal-hal yang buruk ataupun memalukan. JIka anda di minta menuliskan kebaikan dan keburukan dalam diri anda, maka anda akan menuliskan lebih banyak keburukan dari pada kebaikan dalam diri anda. Tidak ada yang salah dengan itu, kok bertentangan sama judul di atas ya?

Saya ingin sedikit bercerita, tetang film jaman dulu banget, mungkin klo umur anda sekkarang di atas 20 di tahun 2009 ini pasti anda ingat dengan film Keluarga Cemara. Pada awalnya film ini tidak akan terbayang bahwa unsur-unsur yang di sampaikan dalam film ini benara-benar anda ingat dengan detail. Mulai dari kerja keras abah yang menjadi tukang becak, hingga anak-anaknya yang membantu berjualan kue. Pesan dalam film ini sangat bagus dan dapat di terima dengan mudah oleh masyarakat.

Namun anda pasti juga ingat dengan film tersanjung, film ini begitu tenar jg saat itu, begitu wah, begitu menarik. Tersanjung memang tenar saat itu, tapi semakin lama penggemarnya habis di telan waktu, bukan berati film ini jelek, tapi film ini tidak bisa memberikan pesan baik di masyarakat umum. sehingga film ini hanya enak di pandang tidak enak di rasa.

Coba anda bayangkan jika di Indonesia di tayangka Keluarga Cemara dan Tersanjung. apa yang ada dalam bayangan anda? penontonnya banyakan yang mana?

Begitu juga dengan Iwan Fals yang manggung di Jogjakarta, maka OI dari jakarta, Jateng, daerah sekitar jogja pasti ada yang turut hadir. Karena Bang Iwan mampu menyampaikan pesan-pesan lewat lagunya.

Sekarang anda ambil beberapa lebar HVS, anda bagi-bagikan ke orang-orang terdekat anda, anda minta menuliskan sifat baik dan buruk yang ada di dalam diri anda. anda akan menemukan jawaban kenapa saya menuliskan judul di atas.
Bukan berati otak anda salah? tidak, seseorang tidak dapat melihat wajahnya sendiri, kecuali melalui cermin, dan cermin itu adalah orang-orang sekitar anda. Jika anda orang yang baik maka orang-orang sekitar anda pasti menulikan 80 persen dari sifar anda adalah sifat yang baik.

Maka sekarang lakukan yang terbaik, Maka cermin itu akan menjawabnya dengan serupa wajah anda.

Ciri Orang Berfikir Positif

Pada posting yang dulu saya pernah membahas masalah berfikir positif. Dari sana kita dapat mengambil kesimpulan bahwa berfikir positif itu sangat bagus. Untuk menjadi orang yang positif thinking itu tidaklah sulit. Tingal merubah sundut pandang kita terhadap diri kita dan terhadap msalah yang kita hadapi. Mungkinkan anda sudah masuk dalam orang-orang yang selalu berfikir positif.
1. Memandang ke depan
orang orang yang berfikir positif pasti memiliki cita-cita yang dia impikan. dan selalu optimis memandang cita-citanya itu.

2. Melihat masalah sebagai pembelajaran
Masalah memang selalu ada, namun orang-orang berpikir positif selalu berpandangan bahwa masalah adalah proses pembelajaran hidup. Masalah membuat orang-orang yang berfikir positif menjadi lebih kuat, lebih tangguh, lebih dewasa, lebih berilmu.

3. Menerima hidup
Setiap orang pasti pernah gagal, namun orang yang berfikir positif mampu menerima kegagalan dan bangkit dan mencapai hidup yang lebih sempurna.

4. Tidak pernah mengeluh
Orang yang selalu berfikir positif jarang mengeluh, karena mengeluh adalah wujud kekecewaan.

5. Mensyukuri apa yang di milik
Orang yang berfikir positif mensyukuri apa yang di milik dan menggunakannya dengan semaksimalmungkin.

6. Menyaring Informasi
biasanya orang-orang suka bergosip yang tidak pasti, tetapi seorang yang berfikir positif menyaring irfomasi yang masuk sehingga dia mampu menemukan hal positif dalam setiap informasi.

7. Berkata-kata yang positif
Rata-rata orang lebih memandang orang lain dari sisi negatif, tetapi orang yang berfikir postif selalu mengatakan hal-hal yang positif.
Ali rengking satu, orang negatif bilang dia memang jago nyontek. sedangkan orang positif bilang dia rajin belajar.

8. Tidak banyak omong
Semakin anda banyak berbicara semakin banyak pula kesalahan yang anda lakukan. orang yang positif selalu lebih banyak bertindak dari pada berbicara. (kecuali memang pekerjaan, reporter, pembicara, dll hehehe)

9. Peduli
Orang positif pintar besosialisasi, tidak ada musuh, lebih banyak membatu orang lain walau tidak kenal. Selain itu postif juga lebih memperhatikan lingkungan sekitarnya.

10. Memperhatikan citra dirisendiri
orang yang berfikir postif selalu memperhatikan penampilan baik jiwa maupun raga. Karena dia selalu melakukan yang terbaik, semaksimal mungkin dia bisa lakukan.

Segala sesuatu berawal dari diri sendiri. Bila anda sudah masuk dalam ciri-ciri di atas, terus pertahankan dan jangan pernah menyerah, jika belum masuk tetap semangat dan cobalah untuk menjadi orang yang selalu berfikir positif

Posting Anda


Jika anda Ingin memposting di blog kami. jangan lupa sertakan alamat web anda, atau email anda. Tidak boleh doble posting

nama
email
Judul
Posting
Image Verification
Please enter the text from the image
[ Refresh Image ] [ What's This? ]
email form

Jalan-Jalan Paris

Abis tes Enaknya refresing, Jalan-jalan paris sebagai tempat tujuannya. Dari Kaiserlautern Berangkat pagi-pagi buta. Naik kereta menuju Homburg kemudia kita menggunakan bis. Sepanjang perjalanan cuma melihat mobil, hamparan sawah dan hutan. Sampai di paris jam 9 pagi. Udara masih cukup dingin.Menjelang pakiran bus, kita di ajak muter pake bus dulu, melihat di kana menara itu-tu yang tinggi yang jadi lambang kota paris. di kiri taman dengan rumput yang mulai menghijau.
Turun dari bus terus jalan kaki muterin paris. keliling paris, ga cuma eifel yang saya liat, tapi juga museum louvre. bener ga ya tulisannya?
Photobucket

Tapi sayng agak mendung, jadi ga terlalu bgus deh fotonya.

paris

Melanjutkan perjalanan, saya bisa memotret beberapa jepretan. ni saya pajang 2 saja. mungkin anda klo keparis lom tentu bisa memfoto seperti ini.

Burung merpati terbang di depan eifel
paris

Menikah di Eifel
(nah ini nie bukti paris kota yang romantis)
paris

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Sukarno-Hatta menuju rumah Laksamana Maeda (kini Jalan Imam Bonjol No.1) diiringi oleh Myoshi guna melakukan rapat untuk menyiapkan teks Proklamasi. Setelah menyapa Sukarno-Hatta yang ditinggalkan berdebat dengan Nishimura, Maeda mengundurkan diri menuju kamar tidurnya. Penyusunan teks Proklamasi dilakukan oleh Soekarno, M. Hatta, Achmad Soebardjo dan disaksikan oleh Soekarni, B.M. Diah, Sudiro (Mbah) dan Sayuti Melik.

Bung Karno menegaskan bahwa pemindahan kekuasaan itu berarti "transfer of power". Bung Hatta, Subardjo, B.M Diah, Sukarni, Sudiro dan Sajuti Malik tidak ada yang membenarkan klaim Nishijima tetapi di beberapa kalangan klaim Nishijima masih didengungkan. Setelah konsep selesai disepakati, Sajuti menyalin dan mengetik naskah tersebut menggunakan mesin ketik yang diambil dari kantor perwakilan AL Jerman, milik Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.

Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 - 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan di kediaman Soekarno, Jl. Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Perundingan antara golongan muda dan golongan tua dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pukul 02.00 - 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan di kediaman Soekarno, Jl. Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Para penyusun teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Ir. Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah Sayuti Melik, Sukarni dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti.

Acara dimulai pada pukul 10:00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh bu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil walikota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.

Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera namun ia menolak dengan alasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh sebab itu ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut. Seorang pemudi muncul dari belakang membawa nampan berisi bendera Merah Putih (Sang Saka Merah Putih), yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya. Setelah bendera berkibar, hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya.[4]. Sampai saat ini, bendera pusaka tersebut masih disimpan di Museum Tugu Monumen Nasional.

Peristiwa Rengasdengklok

Dua hari kemudian, saat Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air dari Dalat, Sutan Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan. Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini melalui radio BBC.
Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi.
Gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan oleh Indonesia makin memuncak dilancarkan para pemuda dari beberapa golongan. Rapat PPKI pada 16 Agustus pukul 10 pagi tidak dilaksanakan karena Soekarno dan Hatta tidak muncul.

Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana --yang konon kabarnya terbakar gelora heroismenya setelah berdiskusi dengan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka --yang tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran, dan pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945. Bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, mereka membawa Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok.
Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya. Di rengasdengklok terjadi perdebatan antara soekarno dan pemuda masalah waktu proklamasi.

Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu - buru memproklamasikan kemerdekaan.
Setelah tiba di Jakarta, mereka pulang kerumah masing-masing. Mengingat bahwa hotel Des Indes (sekarang kompleks pertokoan di Harmoni) tidak dapat digunakan untuk pertemuan setelah pukul 10 malam, maka tawaran Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan rumahnya (sekarang gedung museum perumusan teks proklamasi) sebagai tempat rapat PPKI diterima oleh para tokoh Indonesia. Di rumah Laksamana Muda Maeda teks proklamasi di tuliskan

Mustahil menjadi Nyata

Dasar orang stress!
Justru celaan seperti itulah yang diterima oleh pasangan paman dan keponakan, Sunarya dan Slamet Hadi dari Dusun Sungai Tengah Jember Jawa Timur, saat pertama kali melaksanakan misinya pada tahun 1994. Semangat mulia mereka untuk mencari solusi penerangan bagi desanya yang selama bertahun-tahun tak terjangkau listrik negara, harus menghadapi sikap pesimistis dari sebagian besar tetangganya. Bagi sebagian besar warga dusun Sungai Tengah, upaya membuat listrik dengan cara memahat tebing bukit berbatu keras demi mengalirkan air ke dusun dan menciptakan listrik dari air, benar-benar tak pernah sampai di pemikiran mereka. Sebuah kerja berat yang oleh dua orang ini, dilakukan awalnya secara "trial and error" saja karena mereka tak berbekal pengetahuan teknik yang memadai soal "teknologi pembangkit listrik".

Namun berkat kegigihan dan kerja keras tak kenal lelah Sunarya dan Slamet Hadi, justru warga yang pertama kali mencibir merekalah yang pertama kali juga meminta aliran listrik ke rumahnya. Listrik berdaya 5000 watt dari kincir air, berhasil diciptakan duet "pakdhe" dan "ponakan" ini untuk menerangi sekitar 150 rumah di dusun Sungai Tengah. Bahkan kegigihan pasangan ini, akhirnya memotivasi sekitar 50 warga lainnya untuk mengikuti jejak mereka membuat generator pembangkit listrik mini di rumahnya masing-masing.

Sesendok Beras
Sementara bagi warga Bagendit Garut Jawa Barat, iuran sesendok beras dan uang seratus rupiah per hari mampu diubah menjadi bangunan madrasah atau sekolah, masjid, jalan beraspal hingga fasilitas umum dan sosial desa. Warga desa Bagendit mampu mengubah wajah desanya menjadi lebih indah dan sejahtera secara swadaya, tanpa campur tangan bantuan dari pemerintah.

Semuanya berawal dari tradisi turun temurun iuran sesendok beras per hari yang tetap dipatuhi setiap warga, untuk dikumpulkan sebagai dana swadaya masyarakat. Tekad untuk meneruskan tradisi ini, dilaksanakan oleh kepala desa Bagendit yang juga mewarisi jabatan itu dari ayahnya, Yayan Sofyan. Didukung oleh sejumlah tokoh pemuda desa, muncul inovasi untuk menambahi iuran sesendok beras dengan iuran uang seratus rupiah per hari. Dengan pengelolaan yang baik, dana tersebut mampu dikembangkan selain sebagai dana pembangunan desa, juga sebagai dana simpan pinjam, dana asuransi kesehatan hingga dana beasiswa sekolah ke tingkat SMA.

Mangrove Penyelamat
Sedangkan bagi Abu Wenna, petambak dari desa Lauwa, Wajo, Sulawesi Selatan, abrasi pantai di daerahnya yang mencapai 17 meter per tahun benar-benar menjadi kepedulian utamanya. Tanpa memperdulikan celaan tetangganya yang menganggapnya sebagai orang gila, Abu Wenna sendirian menyusuri pantai teluk Bone dan mulai menanami pesisir pantai dengan beragam tanaman Mangrove pada tahun 1994. "Semua orang berpendapat bahwa menanam Mangrove sia-sia untuk mencegah abrasi, menurut mereka harusnya dengan pembangunan beton untuk memagari pantai. Tapi bagi saya, tanaman Mangrove-lah yang paling tepat untuk menjaga pantai dari pengikisan" terang Abu Wenna.

Alhasil, sikap cuek Abu Wenna untuk terus melaksanakan misinya berujung dengan sejumlah keberhasilan. Abrasi pantai di kawasan Teluk Bone telah berkurang drastis sepanjang 17 kilometer, berkat rerimbunan tanaman Mangrove yang ditanam Abu Wenna. Tak hanya itu, kerja kerasnya menyelamatkan pantai dari pengikisan diakui oleh pemerintah pusat. Pada 5 Juni 2008 lalu, Abu Wenna diundang presiden SBY ke Istana Negara untuk menerima penghargaan Kalpataru sebagai salah satu tokoh perintis lingkungan hidup.

Penghargaan serupa juga dianugerahkan pada Sriyatun Djupri, ibu rumah tangga dari kelurahan Jambangan Surabaya yang mempunyai kepedulian tinggi pada kebersihan lingkungan. Saat pertama pindah dari Trenggalek, Sriyatun langsung berhadapan dengan perilaku buruk membuang sampah dan hajat sembarangan ke Kali Surabaya yang sudah membudaya dari warga sekitarnya. Padahal, air dari Kali Surabaya-lah yang digunakan oleh PDAM Surabaya sebagai sumber bahan baku air bersih untuk warga Surabaya.

Sejak tahun 1973, Sriyatun mulai bergerilya memberikan penyuluhan tentang hidup sehat dan bersih ke warga sekitar. Butuh waktu hingga tahun 1986, hingga akhirnya Sriyatun berhasil memotivasi sekitar 1000 warga yang tersebar di 14 kecamatan sekitar Jambangan, untuk menghapus tabiat buruk mereka. Selanjutnya, tak hanya bisa menanamkan budaya hidup sehat dan bersih, Sriyatun berhasil menaikkan taraf perekonomian kadernya dari sampah. Lewat berbagai inovasi pengelolaan dan pengolahan sampah, Sriyatun mengubah limbah menjadi barang bernilai ekonomi tinggi. Pupuk kompos, beragam barang kerajinan dari sampah plastik bernilai ekspor, pakan ikan hingga bahan baku jamu menjadi penambah penghasilan kader lingkungan Sriyatun dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah per bulan. "Bagi saya, asal mau mengolah sampah dengan baik, selain akan menjadikan berkah juga akan menghasilkan rupiah" tutup Sriyatun dengan mantap.