Sahabatku (haruskah aku bersedih atau bergembira?)

Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, aku terlahir ga bodoh tapi berakhir bodoh. Lahir 1 Maren 1988 dengan nama Joanes de Deo Ardanariswara.

Sewaktu SD saya di tinggal sahabat dalam hidup saya ke Amerika. Ya walau aku tau dia bakal kembali. Namun rasanya berubah, dunia tak lagi berpihak ke dalam diriku. Anak kecil banget yaa?? Waktu itu ak memang masih anak kecil. Semua yang kita jalani bersama sejak ak lahir ke dunia hilang seketika berubah menjadi awal kebodohan yang bodoh. Aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, namun berubah menjadi keluarga yang makmur harta semenjak di tinggal sahabatku. Aneh yaa? Mungkin kepergian sahabatuku mendatangkan harta yang berlimpah ke dalam keluargaku. Hehehe... Tapi terasa berat buat seorang anak desa kecil dengan seribu impin hingga menjandi tanpa impian.

Bodoh Konyol yang ku rasakan saat itu kebebasan penjerumusan terjadi sejak awal kelas 3. Aku harus berjalan sendiri. Kelas 3 SD semua nilaiku anjlok, tidak pernah belajar tidak pernah memperhatikan pelajaran, tidak pernah mencatat. Dan tulisanku menjadi teramat indah Bagai benang anyaman rapuh, putus-putus kagak nyambung kagak. Sampai-sampai buku ku di buang ke tempat sampah oleh guruku. Saat itu ak selalu menyalahkan orang lain, guruku yang jadi sasaran utama. Aku kata-katain guruku, aku salahain atas nilai merahku. Maklum anak kecil, tapi ga maklum karena ak terbangun menjadi pendakwa. Selalu menyalahkan orang lain. Kehancuran yang kecil namun berpengaruh sangat besar dalam hidupku. Ak ga salahin sahabatku itu, yang salah adalah diriku sendiri. Tidak mengerti dan tidak mau di mengerti. Semua serasa milik sendiri semua terasa hidup dengan tahta raja. Mimpi yang terbangun bersama sahabat ku terbuang pergi tinggalkan seonggok sampah di bumi. Tidak ada daya untuk bangkit tidak ada daya untuk berdiri, yang ada hanya penyesalan diri. Tapi itu jalan hidupku yang harus ku lalui. Bodoh adalah kata yang di perkenalkan oleh guruku saat itu.

Waktu terus bejalan begitu hingga temanku kembali dari Amerika pada kelas 4. Aku jemput dia di bandara, dari jauh sudah terlihat lambaian tangan, namun ak seperti tak mengenal dia. Setelah dekat baru ak sadar klau dia temnku yang ak nanti. rasanya sedih, karena ak serasa telah membuatnya kecewa dengan keadaanku yang hancur setelah di tinggalkannya. namun tanggapan dia berbeda, dia memeluk ku dan memulai hari-hari kita dari awal kembali. Aku dan dia mulai menata kembali sedikit-demi sedikit menaikan nilaiku walau ga sesempurna dulu namun cukup untuk membuat aku dan sahabatku tersenyum.

tetap senyum dan melangkah!!!

0 komentar:

Posting Komentar