Jangan Mengecilkan Orang Lain

Setiap sore aku lihat ibu-ibu mercengkrama di samping rumah yang kebetulan kosong.
Kebetulan kamar saya di atas dekat dengan tempat-tempat ibu-ibu itu bergosip ria.
Kemaren ketika masuk kamar dan nyalain koputer dengan sengaja saya dengar ibu-ibu itu bergosip membahas tetangga baru yang suaminya menjadi TKW di malaysia. tetangga itu mulai membangun rumah baru.

tanpa basa basi begini ceritanya.......

ibu A : Itu si tetangga bangun rumah, katanya mau beli motor juga
ibu B : wih iya to? tar juga kalau suaminya pulang di jual semua
ibu C : sekarang dia juga ga mau masak. lauknya beli terus.
ibu A : iya kemaren saya lihat dia beli di warung sana


Pagi ini saya mau beli sarapan kare ibu sedang sakit. kebetulan di warung yang di gosipkan ibu-ibu kemaren. Di sana saya bertemu tetangga sayang menjadi bahan pembicaraan. tetangga itu sedang membawa bungkus plastik isi pepes yang akan di titipkan di warung itu. sesudah menitipkan pepes ibu itu berpamitanlah denganku. "pareng mas, ajeng nitipke teng warung liyane riyen" kata ibu itu. arti kata-kata itu permisi dulu mas, mau menitipkan ke warung lainnya dulu".

setahu saya ibu A si pemulai gosip memiliki utang di mana-mana

Marilah kita baca dan kita ambil sisi positif dari cerita itu. Kalau saja aku tidak bertemu tetangga itu pasti yang ada di pikiranku tetangga itu boros, suka berfoya-foya. pikiran negatif itu pasti muncul. Alhasil saya jadi menjauhi hubungan dengan tetangga itu. Dari cerita di atas saya mengambil pesan untuk segenap pembaca, apa yang kau dengar belum tentu benra, apa yang kau lihat belum tentu fakta jadi cobalah berfikir secara positif semua hal yang kau dengar dan kau lihat.

Penelitian menemukan bahwa cara seseorang menilai orang lain sama saja dengan menceritakan kesehatan mental diri mereka sendiri, seperti halnya menggambarkan orang yang mereka bicarakan.
Orang yang memberikan penilaian positif pada orang lain menunjukkan dirinya punya kepribadian yang positif. Sebaliknya orang yang sering menilai negatif pertanda tidak mau dikalahkan dan anti sosial.

" jangan engkau mengecilkan orang dengan perkataanmu, karena kau akan di kecilkan dengan tindakanmu"

Matinya Pemuda Indonesia

Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku satu pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia (Bung Karno)

Berjuta tetes airmata para pendiri bangsa ini jika melihat anak mereka seperti ini. Coba lihat di berita 99% berta buruk wajah Indonesia. Coba lihat di koran dan majalah terpampang gambaran bangsa Indonesia.

Apa yang salah dengan para pemuda Indonesia? Mulai dari kasus kriminal sampai politik menggambarkan kematian pemuda bangsa ini. Masalah pendidikan yang gembor-gemborkan menjadi masalah kebobrokan bangsa ini juga belom bisa di perbaiki? Banyak yang bilang keimanan terhadap agama yang kurang, namun sampai sekarang yang mengatasnamakan iman justru memecah bangsa yang tunggal ika ini. Banyak yang menyalahkan pengaruh budaya barat yang merusak pemuda kita. Masih terlalu banyak masalah yang membelit dalam kehidupan pemuda bangsa ini.

apa dengan pemerinta membangun sekolah dan fasilitas pemuda ini jadi pandai? Saya rasa tidak. Pandai atau tidak itu masalah pilihan pemuda itu sendiri. Walau dengan fasilitas yang super mewah jika pemuda ini tidak merubah paradikma menyalahkan maka kebodohan tetap merajai dunia pendidikan kita. "ah gurunya ga enak", "ah kursinya jelek". Bukan itu yang menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah ketidakinginannya mengikuti pembelajaran.

Perang antar keyakinan memang riskan di Indonesia yang bineka ini. Ketika kepercayaan menjadi benteng terakhir untuk mempertahankan diri di ubah menjadi senjata tajam untuk kepentingan golongan atau individu. Masalah ini sudah menjadi rahasia umum. Pemuda sebagai golongan terpelajar menjadi mudah terprovokasi, terhasut, apalagi dengan tedeng kepercayaan. Entah dengan kepercayaan golongan atapun agama pemuda di ubah menjadi senjata tajam menghancurkan musuh. tapi sayangnya karena pandangan yang salah sang pemimpin menjadikan senjata itu salah sasaran. Saya tak ingin membahas lebih lebar karena sangat sensitif. yang saya ingin tegaskan adalah Pemuda harus berfikir jernih menanggapi masalah ini ujung pertanggung jawaban bukan kepada pemimpin golongan tetapi lebih kepada Allah.

Mengikuti Budaya barat adalah pilihan. Kita tidak bisa menyalahkan budaya barat, yang salah adalah kita yang mengikuti budaya mereka. mereka punya sejarah budaya itu sehingga mampu menghayati sisi positif budaya mereka. sedangkan kita mengambil secara instan sehingga lebih cenderung menonjolkan sisi negatifnya. Dan kita memiliki sejarah busaya sendiri yang pasti kita tau sisi positifnya. Namun sayang sekang ini sudah terlalu banyak budaya kita yang sudah terhapus. budaya ini tidakhanya di pertahankan oleh pemerintah. tapi seluruh aspek masyarakat termasuk pemuda.

Mari kita bercermin dari kata-kata bung Karno yang saya kutip di atas. Harapan bung Karno besar terhadap pemuda Indonesia. Namun pemuda ini tak mau melepaskan belitan masalah yang di hadapi. Semua bisa menyalahkan pemerintah, namun saya rasa hanya 3% kesalahan pemerintah, Dan 3% pula pemerintah bisa mempengaruhi bangsa ini. Para pembaca yang budiman saya tidak ingin mengecilkan kobaran semangat para pemuda. Bung Tomo mengacungkan tangan untuk menggerakan arek-arek Surabaya mengusir penjajah.saya berharap tulisan ini mampur bermanfaat untuk bangsa ini.

Dampak Negatif Smartphone

Seperti yin dan yang kemajuan teknologi memiliki dampak postif dan negatif. Seperti kita sadari kemajuan smartphone merajai pasar di Indonesia. Semua aspek menggunakan fasilitas ini karena lebih mudah dan praktis, dari jual beli hingga korupsi. Smartphone terus mengembangkan fitur-fitur jaringan sosial seperti Facebook, Twitter, Friendster, dan telepon cerdas Blackberry yang mampu mempercepat komunikasi serta memperpendek jarak.

Namun, di balik nilai positif yang ditawarkan, perangkat canggih itu ternyata menyimpan sejumlah efek buruk yang dapat mengganggu kesehatan penggunanya.



1. Membuat ketagihan
Perangkat telepon seluler pintar ini begitu mudah membuat pemiliknya merasa kecanduan. Studi Rutgers University pada 2006 menyimpulkan, Blackberry dan perangkat serupa memicu kenaikan penggunaan internet yang cukup signifikan, namun berdampak buruk bagi kesehatan mental.

2. Mengganggu tidur
Dengan layanan internet 24 jam, perangkat Blackberry akan bergetar atau berdering setiap saat, ketika ada email dan pesan singkat masuk. Dan setiap saat pula, pengguna akan memainkan Blackberry-nya, termasuk ketika sudah berada di tempat tidur.
Tak jarang pula, pengguna begitu sensitif dengan getar Blackberry, sehingga mudah terbangun dari tidur untuk membuka pesan yang masuk.
Kebiasaan menyanding Blackberry di tempat tidur inilah yang akhirnya membuat tidur tak berkualitas. Dampak selanjutnya, tentu menyerang kesehatan. Bukan rahasia lagi bahwa rendahnya kualitas tidur berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental.
Sebuah penelitian mengungkap, pengguna Blackberry yang memiliki kebiasaan memainkannya sebelum tidur rentan mengalami insomnia, sakit kepala, dan kesulitan berkonsentrasi. Penelitian yang dilakukan Uppsala University di Swedia menambahkan bahwa radiasi telepon seluler bisa mengganggu aktivitas tidur.

3. Memicu cemas
Memiliki telepon selular cerdas semacam Blackberry memang menyenangkan bagi sebagian orang. Dengan Blackberry, aktivitas berkirim email, chatting, hingga berselancar di internet bisa dilakukan bersamaan, kapan saja, dan di mana saja. Banyak pula yang mengandalkannya untuk urusan pekerjaan.
Studi yang dilakukan MIT's Sloan School of Management pada 2007 mengungkap, penggunaan Blackberry membentuk budaya stres di tempat kerja. Fasilitas internet 24 jam yang dijagokan telepon seluler pintar itu mengacaukan waktu luang pekerja. Tugas dan hal-hal yang menyangkut pekerjaan bisa hadir kapanpun, termasuk kala sedang libur.

4. Melemahkan otak
Di balik kemudahan yang diberikan, Blackberry berisiko melemahkan daya konsentrasi penggunanya. Karakternya yang mampu membuat pengguna melakukan sejumlah hal dalam waktu bersamaan (multitasking) cenderung membuat seseorang kesulitan menyerap informasi lantaran fokusnya mudah beralih dari satu hal ke hal lain.

5. tidak ada privasi
Kabar ini terungkap setelah Trevor Eckhart yang merupakan pengembang Android melakukan uji coba dan penelitian. Hasilnya mencengangkan. Ternyata Software Carrier IQ ini telah tertanam di bagian terdalam di Sistem Operasi Android sehingga kita tidak tahu bahwa telah ada spyware di Smartphone kita. Software Carrier IQ adalah sitem spyware atau software penyadap.

segala aktivitas percakapan baik, sms, telepon, log internet dan search engine terekam dan dapat di ketahuan pihak produsen.

6. Autisme
Kecemasan itu pula yang diungkapkan oleh pekerja sosial dari Wing South West. Mereka mengatakan, hasil dari para pemakai smartphone ini kemampuan sosial mereka terus menurun.
"jelas mereka lebih fokus kepada gadget yang digunakan ktimbang memperhatikan sekitarnya"

7. cepat tua dan banyak penyakit
Penggunaan smartphone meningkat drastis beberapa tahun terakhir. Orang bahkan menggunakannya 8-10 jam sehari, dan memaksa mereka fokus pada gadget itu. Hal ini memaksa otot muka bekerja keras dan menimbulkan kerut di wajah.
Selain itu, terlalu lama menggunakan smartphone dapat membuat kulit kusam. “Kulit akan kehilangan cahayanya,” kata konsultan dematolog Pritam Pankaj.
Selain mengancam kesehatan kulit, radiasi smartphone bisa menimbulkan masalah yang lebih besar. “Smartphone lebih mengancam. Gadget ini memancarkan radiasi 2,5 kali lebih besar dari ponsel biasa. Emisi ini bisa menyebabkan risiko kanker otak, impotensi dan penuaan dini,” kata senior konsultan bedah kosmetik Anup Dhir.

Jadi kesimpulannya, selain harganya lebih tinggi, smatrphone juga beresiko tinggi bagi kesehatan dibanding ponsel biasa. Selain itu smartphon juga bisa memperbudak manusia. Maka berhati-hatilah menggunakannya.

Iklas Membawa Berkah

Cuaca hari ini sangat sangat panas. Mbah Sarno terus mengayuh sepeda tuanya menyisir jalan perumahan Condong Catur demi menyambung hidup. Mbah Sarno sudah puluhan tahun berprofesi sebagai tukang sol sepatu keliling. Jika orang lain mungkin berfikir “Mau nonton apa saya malam ini?”, Mbah Sarno cuma bisa berfikir “saya bisa makan atau nggak malam ini?”

Di tengah cuaca panas seperti ini pun terasa sangat sulit baginya untuk mendapatkan pelanggan. Bagi Mbah Sarno, setiap hari adalah hari kerja. Dimana ada peluang untuk menghasilkan rupiah, disitu dia akan terus berusaha. Hebatnya, beliau adalah orang yang sangat jujur. Meskipun miskin, tak pernah sekalipun ia mengambil hak orang lain.

Jam 11, saat tiba di depan sebuah rumah mewah di ujung gang, diapun akhirnya mendapat pelanggan pertamanya hari ini. Seorang pemuda usia 20 tahunan, terlihat sangat terburu-buru.

Ketika Mbah Sarno menampal sepatunya yang bolong, ia terus menerus melihat jam. Karena pekerjaan ini sudah digelutinya bertahun-tahun, dalam waktu singkat pun ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya.

“Wah cepat sekali. Berapa pak?”

“5000 rupiah mas”

Sang pemuda pun mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompetnya. Mbah Sarno jelas kaget dan tentu ia tidak punya uang kembalian sama sekali apalagi sang pemuda ini adalah pelanggan pertamanya hari ini.

“Wah mas gak ada uang pas ya?”

“Nggak ada pak, uang saya tinggal selembar ini, belum dipecah pak”

“Maaf Mas, saya nggak punya uang kembalian”

“Waduh repot juga kalo gitu. Ya sudah saya cari dulu sebentar pak ke warung depan”

“Udah mas nggak usah repot-repot. Mas bawa dulu saja. Saya perhatikan mas lagi buru-buru. Lain waktu saja mas kalau kita ketemu lagi.”

“Oh syukurlah kalo gitu. Ya sudah makasih ya pak.”

Jam demi jam berlalu dan tampaknya ini hari yang tidak menguntungkan bagi Mbah Sarno. Dia cuma mendapatkan 1 pelanggan dan itupun belum membayar. Ia terus menanamkan dalam hatinya, “Ikhlas. Insya Allah akan dapat gantinya.”

Waktu menunjukkan pukul 3 lebih ia pun menyempatkan diri shalat Ashar di masjid depan lapangan bola sekolah. Selesai shalat ia berdoa.

“Ya Allah, izinkan aku mencicipi secuil rezekimu hari ini. Hari ini aku akan terus berusaha, selebihnya adalah kehendakMu.”

Selesai berdoa panjang, ia pun bangkit untuk melanjutkan pekerjaannya.

Saat ia akan menuju sepedanya, ia kaget karena pemuda yang tadi siang menjadi pelanggannya telah menunggu di samping sepedanya.

“Wah kebetulan kita ketemu disini, Pak. Ini bayaran yang tadi siang pak.”

Kali ini pemuda tadi tetap mengeluarkan uang seratus ribuan. Tidak hanya selembar, tapi 5 lembar.

“Loh loh mas? Ini mas belum mecahin uang ya? Maaf mas saya masih belum punya kembalian. Ini juga kok 5 lembar mas. Ini nggak salah ngambil mas?”

“Sudah pak, terima saja. Kembaliannya, sudah saya terima tadi, pak. Hari ini saya tes wawancara. Telat 5 menit saja saya sudah gagal pak. Untung bapak membiarkan saya pergi dulu. Insya Allah minggu depan saya berangkat ke Prancis pak. Saya mohon doanya pak”

“Tapi ini terlalu banyak mas”

“Saya bayar sol sepatu cuma Rp 5000 pak. Sisanya untuk membayar kesuksesan saya hari ini dan keikhlasan bapak hari ini.”

Tuhan punya cara tersendiri dalam menolong hamba-hambaNya yang mau berusaha dalam kesulitannya. Dan kita tidak akan pernah tahu kapan pertolongan itu tiba.
Keikhlasan akan dibalas dengan keindahan. 
Kesuksesan akan menyertai keikhlasan dan rasa syukur.

Sengit Ndulit, Gething Nyanding

Oleh karena tidak lagi sering digunakan, ungkapan yang menjadi judul tulisan ini, seakan kata-kata dari bahasa asing. Ungkapan dari masyarakat Jawa tersebut secara sederhana masing-masing kata memiliki arti sbb: sengit = benci, ndulit = mencolek, gething = sangat benci, sedang nyanding = bersanding. Secara keseluruhan ungkapan itu memiliki arti bahwa siapa yang membenci akan mencolek, siapa yang sangat membenci akan bersandingan.

Dalam kehidupan nyata, sidang pembaca pasti ada yang pernah atau bahkan sampai sekarang masih membenci sesuatu atau seseorang. Bila hal itu terjadi, maka bersiap-siaplah Anda untuk mencoleknya entah dalam arti mengundang, meminta bantuan, mengajak bicara ataupun bertemu dalam suasana yang menjebak dan mengharuskan Anda untuk mencoleknya. Apabila tingkat kebencian tersebut sudah sampai ubun-ubun, yang dalam bahasa Jawa diungkapkan dalam pepatah: Dadio godhong emoh nyuwek, dadio banyu emoh nyawuk (Seandainya jadi daun, ndak mau nyobek, seandainya jadi air, ndak mau membasuh), maka akan tiba saatnya hidup Anda akan selalu bersanding dengannya.

Fenomena Sengit ndulit, Gething nyanding sebetulnya fenomena universal. Dalam dunia Islam ada kisah tentang Umar bin Khatab yang membenci nabi sampai bermaksud membunuh. Akan tetapi kebencian yang telah sampai ke ubun-ubun tersebut menjadikan dia justru harus hidup selalu bersanding dengan Nabi. Hal yang sama terjadi juga di dunia Kristen, yaitu Paulus atau Saulus dari Tarsus yang memburu Yesus, tetapi berbalik justru menjadi salah satu pengikut tersetianya. ANda sekalian dapat menambahkan banyak sekali kisah sejenis, tetapi masyarakat Jawa lah yang pertama merumuskannya dalam bangun teori...

Bagaimana untuk menghindarkan akibat yang tidak mengenakkan dari perasaan membenci? Banyak jalan yang dapat ditempuh. Para ibu yang sedang hamil biasanya menghindari dengan berucap "amit-amit jabang bayi" dengan maksud agar anaknya tidak kena tuah menjadi mirip yang dibenci...

Pepatah itu hendak menyampaikan pesan bahwa dalam hidup ini jangan mengambil posisi ekstrem, baik kanan maupun kiri. Sak madya atau moderat saja... Kalau sedang senang ya cukup tersenyum. Jangan biarkan diri Anda tertawa terbahak-bahak agar kesenangan tersebut tidak segera berubah menjadi kesedihan yang berurai air mata. Begitu pula kalau sedang ditimpa masalah, tidak perlu termehek-mehek atau mengeluh seakan kiamat segera tiba. Jalani semua masalah dengan ikhlas...

Bagaimana agar mampu mengambil posisi moderat atau sak madya saja? Kuncinya adalah: rasional dan berdikari. Rasional dalam arti gunakan akal sehat dan hindarkan dominasi emosi dalam kehidupan. Berdikari artinya segala sesuatu tergantung diri Anda sendiri dan jangan biarkan pihak lian menjadi gantungan Anda, termasuk di dalamnya Tuhan atau roh-roh gaib lainnya. Benda atau makhluk di luar diri Anda akan mempengaruhi, tetapi penentunya adalah diri Anda sendiri. Oleh karena itu, perhitungkan segala sesuatu sebaik mungkin dan keputusan Anda dipastikan akan menjadi sak madya atau moderat.... Mau Coba? Silahkan


-sastro sukamiskin-

Kala Senja di Utara

berdiri ku di sini
menanti hangatnya peluk kasih.
di tepi kehidupan
di tepi kesepian

aku sendiri dan hanya sendiri
tetes air pun tak nampak lagi
gelap datang mengganti
dalam perih hati

aliran kehidupan
tak terbendung waktu
gelap menauingiku
menambah nikmat kehidupanku

aku di sini
di tepi sungai tak berujung
di atas karang kehidupan
di bawah lagit malam

aku di sini
meng hitung deting jam
menanti kehidupan
menanti mentari esok
walau tak mungkin
walau tak mungkin