Sejarah Taxi di Batavia (transportasi kelas atas)

Taksi merupakan salah satu alternatif kendaraan umum bagi Anda yang menginginkan kenyamanan dan kemudahan. Praktis, dan Anda tidak perlu berdesak-desakan dengan penumpang lain.

Di Jakarta sendiri, ada berbagai macam perusahaan taksi. Standar pelayanan taksi yang berbeda satu sama lain, membuat warga Jakarta memiliki kecenderungan untuk memilih merek taksi tertentu, meskipun harus membayar lebih mahal dan kadang harus mengantri lama.

Tahukah Anda kalau taksi sudah masuk di Kota Batavia (Jakarta) sejak tahun 1930-an. Namun jumlahnya masih sangat terbatas. Taksi merupakan kendaraan umum yang ekslusif. Hanya orang-orang kaya pada zaman dahulu yang bisa menggunakan taksi sebagai alat kendaraan umum.

Menurut Onih Masruha (89), jumlahnya pun tak banyak,hanya puluhan. Justru dengan jumlah terbatas itu, taksi di zaman Hindia Belanda menjadi ukuran status sosial,”Orang kite mana ada yang pakai taksi,kebanyakan yang naik kalau bukan meneer-mener ya sinyo-sinyo atawa noni-noni,”ujar lelaki Betawi yang kini tinggal di kawasan Kwitang tersebut.

Kendati bersifat eksklusif, namun taksi zaman Hindia Belanda tidak seenaknya mengambil penumpang dan mangkal di sembarang tempat. Itu berbeda dengan taksi zaman sekarang, yang sesuka hatinya mengangkut “sewa” Akibatnya, tak jarang mereka –bersama mikrolet dan metromini--menjadi biang keladi kemacetan yang terjadi di jalan-jalan utama ibukota.

Di zaman Hindia Belanda, para pengemudi kendaraan bermahkota itu tidak diizinkan mengambil penumpang di tengah jalan. Mereka hanya menurunkan penumpang di tempat-tempat yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Makanya bukan sesuatu yang aneh jika di zaman itu ada yang disebut pangkalan taksi. Fungsinya mirip terminal bus kota saat ini: calon penumpang yang ingin naik taksi harus mendatangi terminal atau pangkalan taksi tersebut.Uniknya, di pangkalan itu berlaku pula sistem antri.

Ada beberapa pangkalan taksi yang ada saat itu di Jakarta. Diantaranya ada di Lapangan Gedung Balai Kota (Stadhuis), Kali Besar Barat dan Lapangan Glodok (Glodok Plein). Sedangkan di Weltevreden dipusatkan tidak jauh dari gedung pertemuan di Harmonie, Pintu Air, Gedung Kesenian (Stadsschouwburg), pojok selatan Lapangan Banteng (Waterlooplein), Stasiun Gambir, Deca Park, pojok Menteng atau Gondangdia Lama, Entrée Saleh (kini Jalan Raden Saleh), Kebon Binatang di Cikini, Krekot, Pasar Baru dan Senen.

Soal kapasitas, taksi tempo doeloe itu dibatasi hanya memuat 5 penumpang. Ongkosnya dihitung berdasarkan kilometer yang ditempuh. Misalnya untuk satu kilometer dikenakan sebesar 30 sen atau 10 sen untuk tiap satu menitnya. Itu merupakan ongkos sewaan di siang hari yang dimulai pukul 06.00 pagi hingga pukul 23.00 malam. Sedangkan untuk di malam hari ongkosnya 50% persen lebih tinggi dari ongkos di siang hari. Waktu malam hari dihitung mulai dari pukul 23.00 malam hingga 06.00 pagi besoknya.

Harga ongkos semakin melonjak kalau sang penumpang minta diantar ke Pelabuhan Tanjung Priok. Jika diminta menunggu maka sang penumpang harus membayar 5 sen permenit dari pertama kali waktu harus menunggu. Hitungan ini di luar ongkos yang telah dipatok sebelumnya. Dengan situasi seperti tersebut, ajaibnya tidak ada terdengar kejadian sopir taksi dirampok saat itu.

Keistimewaan lainnya dari taksi zaman dulu itu adalah para supirnya yang sangat patuh kepada peraturan yang ditetapkan pihak Kotapraja kala itu. Memang ada peraturan, selain wajib mengangkut penumpang di pangkalan taksi, mereka pun tidak dibenarkan merokok saat membawa penumpang. Bagaimana jika ada sopir taksi yang tetap membandel? Pihak Kotapraja tak segan-segan mencabut surat izin mengemudi (rijbewijs). Tentunya tanpa rijbewijs, mereka tak bisa mencari nafkah.

1 komentar: