Cara Beda Dapet Dolar diInternet

Sebelumnya yang belum punya account Liberty monggo daftar dulu

Jika sudah mendaftar atau memiliki Liberty berati anda sudah siap bisnis OnLine. Karena Liberty adalah bank online yang di percaya untuk bisnis online besar seperti trading forex, membeli hosting, domain, dan sebagainya.

Bisnis I
Mari kita mulai dengan Justbeenpaid. Sistem investasiprofit 2%perhari. Tenang walau bisnis investasi namun bisa tanpa modal. karena bonus 10$ untuk pembukaan akun.


banner

Kelebihan dari Investasi JSS Tripler adalah:

1. Jangka waktu investasi hanya 75 hari, untuk tiap putaran
2. Profit dihitung harian sebesar 2 %
3. Profit/penghasilan harian (daily earning) langsung dapat dipantau setiap saat di member area
4. Total profit selama 75 hari 150% bagi free member, dan yang mau upgrade bisa mendapat profit 300%
5. Infestasi minimal 1$, dan maksimal tidak terbatas
6. Infestasi baru dapat dilakukan setiap hari tanpa harus menunggu habisnya masa investasi pertama
7. Pengambilan profit dapat dilakukan kapan saja, tidak harus menunggu akhir bulan atau akhir masa investasi
8. Tidak harus mencari referal/menjadi sponsor
9. Bagi yang mendapat referal akan mendapat tambahan earning 10% pada level 1 dan 5% level 2 dari jumlah posisi yang dibeli referal
10Mendapat tambahan 15$ langsung jika referal upgrade
11 Anda tidak perlu mengerjakan apapun, setelah Anda daftar terus membeli posisi, selanjutnuya tinggal nunggu 24 jam profit langsung dapat di cek di member area.
Nah Jika Anda berminat mengikuti investasi ini silahkan kunjungi dan daftar di sini di JSS-Tri

Paid To Login
Hanya login tiap hari hari di bayar dolar
paid to login
ditambah lagi ngiklanin link referal juga dapet dolar.
mari kita coba aja Geratis

Si Miskin Pemimpin Bangsa Sejati

TD Pardede , tokoh pengusaha asal Medan jaman dulu jika masih hidup tentu akan tercengang membaca berita majalah Tempo :
Dari luar ruangan, sejumlah tokoh melihat pertemuan itu berlangsung dingin. Teh dalam cangkir berlogo Istana Presiden yang diangkut dari rumah Soeharto, tak disentuh. Hendarman – Jaksa Agung – kata sumber itu, lalu mengajukan konsep penyelesaian di luar pengadilan. Diantaranya, keluarga Soeharto harus membayar 4 trilyun kepada negara. Ini sepertiga dari tuntutan Pemerintah, yakni US $ 420 juta dan Rp 185 milyar plus ganti rugi immaterial Rp 10 trilyun atas Yayasan Supersemar .

Mbak Tutut dan adik adiknya hanya terdiam mendengar angka yang diajukan Pemerintah .

Si ompung Pardede yang dekat dengan Bung Karno pasti teringat saat suatu hari dia dipanggil mendadak ke Jakarta. Mengetahui betapa miskinnya sang Presidennya. Setelah ngobrol ngobrol bersama menteri lainnya, Presiden Republik Indonesia itu mengajak TD Pardede ke pojok ruangan.

“ Pardede, bisa kau pinjamkan aku uang ? “
Gelagapan karena langsung ditodong oleh penguasa negeri. TD Pardede merogoh saku saku jasnya dan memberikan seribu dollar dari kantongnya. Namun Bung Karno hanya mengambil secukupnya dan mengembalikan sisanya kepada Pardede.

Lain cerita salah satu ajudan terakhir,Putu Sugianitri seorang bekas Polisi wanita yang juga harus pensiun tanpa kejelasan. Suatu saat setelah tidak menjadi presiden, Bung Karno jalan jalan keliling kota dan tiba tiba ingin buah rambutan. ” Tri , beli rambutan “.
” Uangnya mana ? ” tanya si polwan asal Bali itu.
” sing ngelah pis ” kata Bung Karno dalam bahasa Bali yang artinya ” saya tak punya uang “.
Jadilah sang ajudan memakai uang pribadinya untuk mantan presiden yang tidak memiliki uang.

Ali Sadikin dilantik menjadi Gubernur pada usia 37 tahun

Ada juga cerita dari Bang Ali Sadikin.
Saat ia menjabat Menko Maritim. Ia ditanya oleh Bung karno apakah ia bisa membantu bisnis mertua Bung Karno yang berkaitan dengan perijinan pelabuhan. Setelah dipelajari Ali Sadikin mengatakan tidak bisa. Peraturan mengatakan demikian.

“ Ya sudah , kalau tidak bisa “ kata Bung Karno.
Bang Ali berpikir. Luar biasa ini manusia. Padahal sebagai Presiden ia bisa memaksakan memberi perintah. Yang mengagumkan Bung Karno selanjutnya tidak pernah dendam, bahkan kelak mengangkat May.Jend KKO Ali Sadikin sebagai Gubernur Jakarta.

Dari cerita tersebut diatas, kita tahu Bung Karno tidak pernah peduli dengan uang atau harta. Ketika turun dari kekuasaan kita tak pernah tahu bahwa Bung Karno dan keluarganya meninggalkan kekayaan yang melimpah ruah.
Saat mendapat surat dari Jenderal Soeharto, bahwa Bung Karno harus meninggalkan Istana Merdeka sebelum tanggal 16 Agustus 1967. Maka teman teman Bung Karno yang mengetahui rencana itu segera menawarkan dan menyediakan 6 rumah untuk tempat tinggal dan putera puteri Bung Karno.
Mendengar hal itu Bung Karno seketika marah, bahwa ia tidak menghendaki rumah rumah itu. Ia menginginkan semua anak anaknya pindah ke rumah Ibu Fatmawati.

“ Semua anak anak kalau meninggalkan Istana tidak boleh membawa apa apa, kecuali buku buku pelajaran, perhiasan sendiri dan pakaian sendiri. Barang barang lain seperti radio , televisi dan lain lain tidak boleh dibawa ! “
Demikian Bung Karno memerintahkan.
Guntur - putera tertua – setelah mendengar penjelasan itu merasa kecewa, karena ia sudah terlanjur menggulung kabel antenna TV yang akhirnya tidak boleh dibawa pergi.


Fatmawati

Sementara Ibu Fatmawati mengeluh karena kamar di rumahnya tidak cukup.
Tak berapa lama datang truk dari Polisi yang membawa 4 tempat tidur dari kayu yang bersusun, dengan kasur dan bantalnya tapi tanpa sprei dan sarung bantal. Juga beras 6 karung.
“ Anak anakku semua disuruh tidur di tempat tidur susun dari kayu, tanpa sprei dan sarung bantal “
Konon Ibu Fat, marah marah kepada utusan yang membawa perlengkapan itu.

Bung Karno keluar dari istana dengan mengenakan kaos oblong cap cabe dan celana piyama warna krem. Baju piyamanya disampirkan ke pundak, dan ia memakai sandal bata yang sudah usang. Tangan kanannya memegang kertas Koran yang digulung, berisi bendera pusaka merah putih. Bendera yang dijahit oleh istrinya sendiri, ibu Fatmawati ketika masa proklamasi kemerdekaan dahulu.

Tak ada voor ridjer, pengawalan atau penghormatan seperti ketika Presiden Soeharto – yang diantar Jenderal Wiranto sampai ke mobil Mercedes - meninggalkan Istana Merdeka setelah menyerahkan jabatannya kepada Habibie.

Ia meninggalkan istana dengan mobil vw kodok yang dikendarai seorang supir asal kepolisian. Salah seorang anggota kawal pribadinya membawakan ovaltine, minuman air jeruk, air teh, air putih, kue kue serta obat obatan Bung Karno.

Itulah seluruh harta yang dimiliki Bung Karno ketika meninggalkan Istana.
Selebihnya ditinggalkan. Kelak harta kekayaan Soekarno yang ditinggal di Istana didata oleh pihak penguasa dengan dibuatkan berita acara. Barang barang itu mulai dari logam emas batangan, lukisan lukisan, buku buku, pakaian, minyak wangi, bolpen, uang dollar yang semuanya bernilai tidak sedikit. Dan semua itu tidak pernah diserahkan kepada Bung Karno atau keluarganya. Tidak jelas siapa yang mewarisi.

Rekor Indonesia di Dunia II

Dulu saya pernah membahas Rekor Indonesia di Dunia Part I .
Untuk lebih membanggakan jadi Orang Indonesia saya berbagi kembali beberapa hal yang membanggakan di Indonesia.


Indonesia merupakan penghasil 20% gas alam cair dan merupakan penyuplai terbesar untuk dunia



Indonesia merupakan penghasil cengkeh dan pala utama dunia dan otomatis menempati posisi pertama dalam hal produksi di dunia




Indonesia memiliki spesies ikan hiu terbanyak yaitu sekitar 150 jenis




Indonesia merupakan Biodiversity Anggrek terbeser didunia. Ada sekitar 6 ribu jenis anggrek, mulai dari yang terbesar (Anggrek Macan atau Grammatophyllum Speciosum) sampai yang terkecil (Taeniophyllum, yang tidak berdaun), termasuk Anggrek Hitam yang langka dan hanya terdapat di Papua.




Indonesia memiliki hutan bakau terbesar di dunia dan untuk di ketahui bahwa mangfaat hutan bakau adalah untuk pencegah abrasi atau pengikisan air laut




Indonesia memiliki primata terkecil di dunia yaitu Tarsier Pygmy (Tarsius Pumilus) atau disebut juga Tarsier Gunung yang panjangnya hanya 10 cm. Hewan yang mirip monyet dan hidupnya diatas pohon ini terdapat di Sulawesi.




Indonesia merupakan tempat ditemukannya ular terpanjang di dunia yaitu Python Reticulates sepanjang 10 meter di Sulawesi.



Film Tua Diproduksi di Indonesia

1. Loetoeng Kasaroeng (1926)
Loetoeng Kasaroeng adalah sebuah film Indonesia tahun 1926. Meskipun diproduksi dan disutradarai oleh pembuat film Belanda, film ini merupakan film pertama yang dirilis secara komersial yang melibatkan aktor Indonesia.











2. Eulis Atjih (1927)

Sebuah film bisu bergenre melodrama keluarga, film ini disutradarai oleh G. Kruger dan dibintangi oleh Arsad & Soekria. Film ini diputar bersama-sama dengan musik keroncong yang dilakukan oleh kelompok yang dipimpin oleh Kajoon, seorang musisi yang populer pada waktu itu. Kisah Eulis Atjih, seorang istri yang setia yang harus hidup melarat bersama anak-anaknya karena ditinggal suaminya yang meninggalkannya untuk berfoya-foya dengan wanita lain, walaupun dengan berbagai masalah, akhirnya dengan kebesaran hatinya Eulis mau menerima suaminya kembali walaupun suaminya telah jatuh miskin.






3. Lily Van Java (1928)

Film yang diproduksi perusahaan The South Sea Film dan dibuat bulan Juni 1928. Bercerita tentang gadis yang dijodohkan orang tuanya padahal dia sudah punya pilihan sendiri. Pertama dibuat oleh Len H. Roos, seorang Amerika yang berada di Indonesia untuk menggarap film Java. Ketika dia pulang, dilanjutkan oleh Nelson Wong yang bekerja sama dengan David Wong, karyawan penting perusaahaan General Motors di Batavia yang berminat pada kesenian, membentuk Hatimoen Film. Pada akhirnya, film Lily van Java diambil alih oleh Halimoen. Menurut wartawan Leopold Gan, film ini tetap digemari selama bertahun-tahun sampai filmnya rusak. Lily van Java merupakan film Tionghoa pertama yang dibuat di Indonesia.





4. Resia Boroboedoer (1928)

Film yang diproduksi oleh Nancing Film Co, yang dibintangi oleh Olive Young, merupakan film bisu yang bercerita tentang Young pei fen yang menemukan sebuah buku resia (rahasia) milik ayahnya yang menceritakan tentang sebuah bangunan candi terkenal (Borobudur). Diceritakan juga di candi tersebut terdapat sebuah harta karun yang tak ternilai, yaitu guci berisi abu sang Buddha Gautama.








5. Setangan Berloemoer Darah (1928)

Film yang disutradarai oleh Tan Boen San, setelah pencarian di beberapa sumber, sinopsis film ini belum diketahui secara pasti.



6. Njai Dasima I (1929)

Film ini berasal dari sebuah karangan G. Francis tahun 1896 yang diambil dari kisah nyata, kisah seorang istri simpanan, Njai (nyai) Dasima yang terjadi di Tangerang dan Betawi/Batavia yang terjadi sekitar tahun 1813-1820-an. Nyai Dasima, seorang gadis yang berasal dari Kuripan, Bogor, Jawa Barat. Ia menjadi istri simpanan seorang pria berkebangsaan Inggris bernama Edward William. Oleh sebab itu, akhirnya ia pindah ke Betawi/Batavia. Karena kecantikan dan kekayaannya, Dasima menjadi terkenal. salah seorang penggemar beratnya Samiun yang begitu bersemangat memiliki Nyai Dasima membujuk Mak Buyung untuk membujuk Nyai Dasima agar mau menerima cintanya. Mak buyung berhasil membujuk Dasima walaupun Samiun sudah beristri. Hingga akhirnya Nyai Dasima disia-siakan Samiun setelah berhasil dijadikan istri muda.



7. Rampok Preanger (1929)

Ibu Ining tidak pernah menduduki bangku sekolah, tahun 1920-an adalah seorang penyanyi keroncong terkenal pada Radio Bandung (NIROM) yang sering pula menyanyi berkeliling di daerah sekitar Bandung. Kemudian ia memasuki dunia tonil sebagai pemain sekaligus sebagai penyanyi yang mengadakan pagelaran keliling di daerah Priangan Timur. Main film tahun 1928 yang berlanjut dengan 3 film berikutnya. Film-film itu seluruhnya film bisu. Ketika Halimoen Film ditutup tahun 1932, hilang pulalah Ibu Ining dari dunia film. Namun sampai pecahnya PD II, ia masih terus menyanyi dan sempat pula membuat rekaman di Singapura dan Malaya. Pada tahun 1935 ia meninggal dunia dalam usia 69 tahun karena sakit


8. Si Tjonat (1929)
Cerita dalam film ini berputar pada kisah seseorang yang dijuluki si Tjonat. Nakal sejak kecil, si Tjonat (Lie A Tjip) melarikan diri ke Batavia (Jakarta) setelah membunuh temannya. Di kota ini ia menjadi jongos seorang Belanda, bukannya berterima kasih karena mendapat pekerjaan, ia juga menggerogoti harta nyai tuannya itu. Tak lama kemudian ia beralih profesi menjadi seorang perampok dan jatuh cinta kepada Lie Gouw Nio (Ku Fung May). Namun cintanya bertepuk sebelah tangan, penolakan Gouw Nio membuatnya dibawa lari oleh si Tjonat. Usaha jahat itu dicegah oleh Thio Sing Sang (Herman Sim) yang gagah perkasa.





9. Si Ronda (1930)

Film ini disutradaria oleh Lie Tek Swie & A. LOEPIAS (Director of Photography), dan dibintangi oleh Bachtiar Efendy & Momo. Film ini bercerita tentang kisah seorang jagoan perkelahian yang mengandung unsur kebudayaan Cina.






10. Boenga Roos dari Tjikembang (1931)

Film bersuara pertama di Indonesia, film ini menceritakan tentang hubungan antar etnis Cina & pribumi. Dalam film ini, The Teng Chun bertindak sebagai sutradara dan kamera. Cerita ini dikarang oleh Kwee Tek Hoay dan pernah dipentaskan Union Dalia Opera pada 1927, meskipun cuma ringkasan cerita saja, yaitu tentang Indo-Tiongha. Dan film ini diberitakan oleh pengarangnya film Cina buatan Java ini adalah karya Indo-Tiongha.








11. Darah dan Doa (1950), film pertama Indonesia yang dibuat oleh orang Indonesia

Darah dan Doa adalah sebuah film Indonesia karya Usmar Ismail yang diproduksi pada tahun 1950 dan dibintangi oleh Faridah. Film ini merupakan film Indonesia pertama yang sepenuhnya dibuat oleh warga pribumi. Film ini ialah produksi pertama Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini), dan tanggal syuting pertama film ini 30 Maret 1950, yang kemudian dirayakan sebagai Hari Film Nasional. Kisah film ini berasal dari skenario penyair Sitor Situmorang, menceritakan seorang pejuang revolusi Indonesia yang jatuh cinta kepada salah seorang Belanda yang menjadi tawanannya.

Sumber: perfilman.pnri.go.id

Bungkarno di Mata Im Yang Tjoe

Siapa Im Yang Tjoe?
Mungkin tidak begitu penting dalam sejarah nasional. Ia tidak masuk dalam golongan orang dekat bung  Karno seperti Lim Thwan Tek, Oei Tjong Hauw, atau Oei Tiong Hauw yang bergabung dalam Chuo Sangiin (Dewan Penasihat Pusat) pimpinan Soekarno.  Tapi ia menjadi penting dalam garis sejarah Sukarno. Penulis keturunan Tionghoa inilah yang membuat buku biografi pertama tentang Bung Karno thun 1933. Beberapa saat setelah Bung Karno dibebaskan dari Sukamiskin. Setahun sebelum Bung Karno dibuang ke Ende.

Buku itu terbit jauh sebelum kemerdekaan RI. Tetapi, dalam tulisannya, Im Yang Tjoe sudah merasakan aura Bung Karno akan berdiri sebagai pemimpin bangsa ini, akan membebaskan bangsa ini dari penjajahan kolonial. Ia sudah lama melakukan observasi, penelitian, dan mengikuti rekam-jejak Sukarno. Bahkan untuk keperluan penulisan bukunya, ia menelusuri hingga ke Tulungagung, Sidoarjo, Mojokerto, Surabaya, dan tentu saja Bandung. Karena itu pula, Im Yang Tjoe bisa mendiskripsikan dengan begitu jelas riwayat Sukarno sejak anak-anak hingga mewujud menjadi tokoh pergerakan kemerdekaan.

Pada bagian akhir bukunya, ia membuat kesaksian. Begini ia menulis, “Sedikit pernyataan, kenapa buku ini ditulis, tiada lain karena penulisnya bersimpati pada tabiat kesatria dan kemanusiaan yang ada pada diri Ir Sukarno itu.”



Soekarno Penuh Kasih

Lebih lanjut ia menuliskan, perikemanusiaan Sukarno begitu besar, dan dirasakan sampai sekarang. Sejak berumur 14 tahun, membunuh nyamuk saja ia tiada pernah, kendati nyamuk itu menggigit badannya. Sebab, ia menganggap nyamuk-nyamuk itu sudah diciptakan untuk hidupnya harus menghisap darah manusia, seperti halnya semut yang mesti memakan gula.

Karenanya, Sukarno berpikir, tidak harus lantaran cangkir kopinya dirubung semut, manusia harus menggunakan kekuatannya untuk membinasakan semut. “Yah… sebagai manusia, Sukarno pantas dihormati,” tulis Im Yang Tjoe.

Sementara, dirinya sendiri terus menolong orang-orang miskin, tidak peduli bangsa apa saja. Jangankan kepada bangsanya sendiri, bahkan kepada orang Belanda yang kenal dengannya ketika sama-sama di penjara, dan ketika keluar tidak punya penghasilan, datang kepada Sukarno yang dengan suka rela memberikan apa saja yang ia punya. Uang tiga picis dikasih satu rupiah, terkadang yang dua rupiah dikasih semua tanpa memikirkan apakah besok masak sayur atau hanya makan pakai garam.

Siapa yang mesti memperingatkan Sukarno akan tabiat yang terkadang menyulitkan dirinya sendiri itu? Tidak satu pun. Karena, Inggit istrinya, pun setali tiga uang. Karenanya, keduanya seakan bersaing dalam kebaikan. Tak jarang mereka main dulu-duluan menyebar milik mereka kepada siapa saja yang lebih membutuhkan. Padahal, kehidupan mereka sendiri tergolong tak seberapa mampu.

Tidak sedikit yang menganggap perbuatan keduanya sebagai bodoh atau konyol. Akan tetapi, tidak begitu sikap Sukarno dan Inggit. Bagi keduanya, ibarat memiliki sebuah gunung emas, girang dan senangnya tidak seberapa dibanding ketika keduanya bisa memberi harta yang paling akhir yang dimilikinya kepada sesama manusia yang sedang dalam kesusahan.



Soekarno Dihormati dan Dikasihi

Pada halaman pengantar, Im Yang Tjoe menulis: “Kepada Ir. Soekarno: Toean, apabila ini menoesoek perasa’an toean, saja minta ma’af atas dasar bahoea ini boekoe saja toelis aken kagoena’annja rahajat jang toean tjinta, samentara ditulisnja poen dengen hati soetji dan penoeh penghormatan. Im Yang Tjoe.”

Dalam episode penangkapan Sokarno di Jogjakarta, 29 Desember 1929, dan kemudin dari kantor polisi digiring ke kereta api, Im Yang Tjoe menulis, Soekarno dikawal ketat dengan memukul tambur sepanjang jalan. Begitu juga ketika Bung Karno keluar dari penjara Soekamiskin, Im Yang Tjoe mencatat, 98 buah mobil, 320 delman sudah siap menjemput Soekarno. Tetapi, pemerintah Belanda hanya mengizinkan delapan buah mobil, antara lain, yang ditumpangi istrinya, Inggit Garnasih, dan anak angkat mereka, Ratna Djoeami, serta mobil yang membawa Moh. Husni Thamrin, anggota Volksraad yang datang dari Betawi.

Ini dia siapa Im Yang Tjoe
Im Yang Tjoe adalah sebuah nama samaran dari seoarng wartawan yang bernama asli Tan Hong Bun.
Pada masa tuanya, ia menjadi kaya, tetapi bukan karena buku-buku yang ditulisnya, juga bukan karena pernah dekat dengan Bung Karno. Ia sering berkeliling Pulau Jawa dengan bersepeda dan meramu jamu yang kemudian diberi merek dagang Pil Kita yang ternyata paling digandrungi para atlet dan sopir
kutipan Peter A. Rohi , wartawan senior pada artikel jawa pos

Jejak Langkah Soeharto kecil

Suharto lahir di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta, 8 Juni 1921 dari rahim Sukirah dibantu dukun bayi bernama Mbah Kromodiryo yang juga adik kakek Sukirah, Mbah Kertoirono. Ayahnya bernama Kertoredjo alias Wagiyo alias Panjang alias Kertosudiro menceraikan Sukirah taklama setelah Soeharto lahir. Sukirah menikah lagi dengan Pramono dan dikaruniai tujuh anak, termasuk putra kedua, Probosutedjo. Ayahanda Pak Harto juga menikah lagi dan mendapatkan empat anak.

Belum genap 40 hari, bayi Soeharto dibawa ke rumah Mbah Kromo karena ibunya sakit dan tidak bisa menyusui. Mbah Kromo kemudian mengajari Soeharto kecil untuk berdiri dan berjalan. Soeharto juga sering diajak ke sawah. Sering, Mbah Kromo menggendong Soeharto kecil di punggung ketika sedang membajak sawah. Kenangan itu tidak pernah dilupakan Soeharto. Soeharto juga suka bermain air, mandi lumpur atau mencari belut.

Ketika semakin besar, Soeharto tinggal bersama kakeknya, Mbah Atmosudiro, ayah dari ibunya. Soeharto sekolah ketika berusia delapan tahun, tetapi sering berpindah. Semula disekolahkan di Sekolah Dasar (SD) di Desa Puluhan, Godean. Lalu, pindah ke SD Pedes (Yogyakarta) lantaran ibu dan ayah tirinya (Pramono) pindah rumah ke Kemusuk Kidul. Tidak lama kemudian Soeharto kecil dipindahkan oleh ayah kandungnya ke Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Soeharto dititipkan di rumah bibinya yang menikah dengan seorang mantri tani bernama Prawirowihardjo. Soeharto diterima sebagai putra paling tua dan diperlakukan sama dengan putra-putri Prawirowihardjo. Soeharto kemudian disekolahkan dan menekuni semua pelajaran, terutama berhitung. Dia juga mendapat pendidikan agama yang cukup kuat dari keluarga bibinya.

Kegemaran bertani tumbuh selama Soeharto menetap di Wuryantoro. Di bawah bimbingan pamannya yang mantri tani, Soeharto menjadi paham dan menekuni pertanian. Sepulang sekolah, Soeharto belajar mengaji di langgar bersama teman-temannya. Belajar mengaji bahkan dilakukan sampai semalam suntuk.

Pada suatu kesempatan, Soeharto ingat, daging kakinya pernah terbelah ketika arit yang sedang dipakainya memotong rumput terlepas dari gagangnya. Perih sekali, tentu. Saat itu ia belum berusia lima belas tahun. Ia harus membantu keluarga bibi bapaknya yang menampungnya setelah kedua orang tuanya bercerai dan ibunya mengalami gangguan kejiwaan.
Suharto: A Political Biography karangan Robert E

Setamat Sekolah Rendah (SR) empat tahun, Soeharto disekolahkan oleh orang tuanya ke sekolah lanjutan rendah di Wonogiri. Setelah berusia 14 tahun, Soeharto tinggal di rumah Hardjowijono. Pak Hardjowijono adalah teman ayahnya yang pensiunan pegawai kereta api. Hardjowijono juga seorang pengikut setia Kiai Darjatmo, tokoh agama terkemuka di Wonogiri waktu itu. Soeharto kembali ke kampung asalnya, Kemusuk untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah di Yogyakarta. Itu dilakukannya karena di sekolah itu siswanya boleh mengenakan sarung dan tanpa memakai alas kaki (sepatu).

Setelah selesai SMP pada 1 Juni 1940 ia diterima sebagai siswa di sekolah militer di Gombong, Jawa Tengah. Setelah enam bulan menjalani latihan dasar, ia tamat sekolah militer sebagai lulusan terbaik dan menerima pangkat kopral. Ia terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara.