Bolehkah aku botak

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran, "Berapa lama lagi
kamu baca
koran itu? Tolong kamu ke sini dan
bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan."

Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu-satunya, namanya
Sindu tampak
ketakutan, air matanya banjir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi
nasi susu
asam/yogurt (nasi khas India /curd rice).

Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8
tahun. Dia
sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno,
mereka
percaya sekali kalau makan curd rice ada "cooling effect".

Aku mengambil mangkok dan berkata, "Sindu sayang, demi ayah, maukah
kamu makan
beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan
teriak-teriak sama
ayah." Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku.

Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan
berkata,
"Boleh ayah. Akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok,
tapi
semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta..." agak ragu-ragu
sejenak,
"Akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau
berjanji
memenuhi permintaan saya?"

Aku menjawab, "Oh pasti sayang".

Sindu tanya sekali lagi, "Betul nih ayah?" "Yah pasti.." sambil
menggenggam
tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk
tangan
Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, "Janji" kata istriku.

Aku sedikit khawatir dan berkata, "Sindu jangan minta komputer atau
barang-barang lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya
uang."

Sindu menjawab, "Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang-barang mahal
kok."
Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita,
dia
bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu.

Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk
makan
sesuatu yang tidak disukainya.

Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata
penuh harap.
Dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya.
Ternyata
Sindu mau kepalanya digunduli/dibotaki pada hari Minggu.

Istriku spontan berkata, "Permintaan gila, anak perempuan dibotaki,
tidak
mungkin!" Juga ibuku menggerutu, "Jangan terjadi dalam keluarga kita,
dia
terlalu banyak nonton TV. Dan program-program TV itu sudah merusak
kebudayaan
kita."

Aku coba membujuk, "Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami
semua akan
sedih melihatmu botak."

Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, "Tidak ada 'yah, tak ada keinginan
lain,"
kata Sindu.

Aku coba memohon kepada Sindu, "Tolonglah kenapa kamu tidak mencoba
untuk
mengerti perasaan kami."

Sindu dengan menangis berkata, "Ayah sudah melihat bagaimana
menderitanya saya
menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi
permintaan saya kenapa ayah sekarang mau menarik/menjilat ludah
sendiri?
Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus
memenuhi janji
kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra
(raja
India jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta,
harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri."

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, "Janji kita
harus
ditepati."

Secara serentak istri dan ibuku berkata, "Apakah aku sudah gila?"

"Tidak," jawabku, "Kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan
pernah
belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri."

"Sindu permintaanmu akan kami penuhi."

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan
bagus. Hari
Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak
berjalan ke
kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas
lambaian
tangannya.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki keluar dari mobil sambil berteriak,
"Sindu
tolong tunggu saya."

Yang mengejutkanku ternyata kepala anak laki-laki itu botak. Aku
berpikir
mungkin "botak" model jaman sekarang.

Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan
berkata, "Anak
anda ,Sindu, benar-benar hebat. Anak laki-laki yang jalan bersama-sama
dia
sekarang, Harish adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia."

Wanita itu berhenti sejenak, menangis tersedu-sedu, "Bulan lalu Harish
tidak
masuk sekolah, karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak
jadi dia
tidak mau pergi kesekolah takut diejek/dihina oleh teman-teman
sekelasnya. Nah,
Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk
mengatasi
ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul-betul tidak menyangka
kalau Sindu
mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan
istri tuan
sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia."

Aku berdiri terpaku dan aku menangis. Malaikat kecilku tolong ajarkanku
tentang kasih.

Berikanlah aku waktu

Seperti biasa Paijo, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah, putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya.

Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

"Kok, belum tidur ?" sapa Paijo sambil mencium anaknya.
Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, "Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?"

"Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?"


"Ah, enggak. Pengen tahu aja" ucap Sarah singkat.

"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?"

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Paijo beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya. "Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,-untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong" katanya.

"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur" perintah Paijo. Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,Sarah kembali bertanya, "Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?"

"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini ?Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah".

"Tapi Papa..." Kesabaran Andrew pun habis. "Papa bilang tidur !" hardiknya mengejutkan Sarah.

Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Paijo nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Paijo berkata, "Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa.
Jangankan Rp.5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih" jawab Paijo

"Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini".

"lya, iya, tapi buat apa ?" tanya Paijo lembut.


"Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp.15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp.5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa" kata Sarah polos.

Paijo pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk "membeli" kebahagiaan anaknya.

Bayi yang menyelamatkan 2 nyawa

Kisah berikut ini dikutip dari buku “Gifts From The Heart for Women” karangan Karen Kingsbury.

Inti ceritanya kira-kira sbb :
Ada pasangan suami isteri yang sudah hidup beberapa lama tetapi belum mepunyai keturunan. Sejak 10 tahun yang lalu, sang istri terlibat aktif dalam kegiatan untuk menentang ABORSI,karena menurut pandangannya, aborsi berarti membunuh seorang bayi.

Setelah bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang istri hamil, sehingga pasangan tersebut sangat bahagia. Mereka menyebarkan kabar baik ini kepada famili, teman2 dan sahabat2, dan lingkungan sekitarnya. Semua orang ikut bersukacita dengan mereka. Dokter menemukan bayi kembar dalam perutnya, seorang bayi laki2 dan perempuan. Tetapi setelah beberapa bulan, sesuatu yang buruk terjadi. Bayi perempuan mengalami kelainan, dan ia mungkin tidak bisa hidup sampai masa kelahiran tiba. Dan kondisinya juga dapat mempengaruhi kondisi bayi laki2. Jadi dokter menyarankan untuk dilakukan aborsi, demi untuk sang ibu dan bayi laki2 nya.

Fakta ini membuat keadaan menjadi terbalik. Baik sang suami maupun sang istri mengalami depressi. Pasangan ini bersikeras untuk tidak menggugurkan bayi perempuannya (membunuh bayi tsb), tetapi juga kuatir terhadap kesehatan bayi laki2nya. “Saya bisa merasakan keberadaannya, dia sedang tidur nyenyak”, kata sang ibu di sela tangisannya. Lingkungan sekitarnya memberikan dukungan moral kepada pasangan tersebut,dengan mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan.

Ketika sang istri semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, tiba-tiba dia tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencanaNya dibalik semua ini. Hal ini membuatnya lebih tabah.Pasangan ini berusaha keras untuk menerima fakta ini. Mereka mencari informasi di internet, pergi ke perpustakaan, bertemu dengan banyak dokter, untuk mempelajari lebih banyak tentang masalah bayi mereka.Satu hal yang mereka temukan adalah bahwa mereka tidak sendirian. Banyak pasangan lainnya yang juga mengalami situasi yang sama, dimana bayi mereka tidak dapat hidup lama. Mereka juga menemukan bahwa beberapa bayi akan mampu bertahan hidup, bila mereka mampu memperoleh donor organ dari bayi lainnya. Sebuah peluang yang sangat langka. Siapa yang mau mendonorkan organ bayinya ke orang lain ? Jauh sebelum bayi mereka lahir, pasangan ini menamakan bayinya, Jeffrey dan Anne. Mereka terus bersujud kepada Tuhan. Pada mulanya,mereka memohon keajaiban supaya bayinya sembuh. Kemudian mereka tahu, bahwa mereka seharusnya memohon agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi, karena mereka yakin Tuhan punya rencanaNya sendiri.

Keajaiban terjadi, dokter mengatakan bahwa Anne cukup sehat untuk dilahirkan, tetapi ia tidak akan bertahan hidup lebih dari 2 jam. Sang istri kemudian berdiskusi dengan suaminya, bahwa jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anne, mereka akan mendonorkan organnya. Ada dua bayi yang sedang berjuang hidup dan sekarat, yang sedang menunggu donor organ bayi. Sekali lagi, pasangan ini berlinangan air mata. Mereka menangis dalam posisi sebagai orang tua, dimana mereka bahkan tidak mampu menyelamatkan Anne. Pasangan ini bertekad untuk tabah menghadapi kenyataan yg akan terjadi.

Hari kelahiran tiba. Sang istri berhasil melahirkan kedua bayinya dengan selamat. Pada momen yang sangat berharga tersebut, sang suami menggendong Anne dengan sangat hati-hati, Anne menatap ayahnya, dan tersenyum dengan manis. Senyuman Anne yang imut tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya. Tidak ada kata2 di dunia ini yang mampu menggambarkan perasaan pasangan tersebut pada saat itu. Mereka sangat bangga bahwa mereka sudah melakukan pilihan yang tepat (dengan tidak mengaborsi Anne),mereka sangat bahagia melihat Anne yang begitu mungil tersenyum pada mereka, mereka sangat sedih karena kebahagiaan ini akan berakhir dalam beberapa jam saja. Sungguh tidak ada kata2 yang dapat mewakili perasaan pasangan tersebut. Mungkin hanya dengan air mata yang terus jatuh mengalir, air mata yang berasal dari jiwa mereka yang terluka..

Baik sang kakek, nenek, maupun kerabat famili memiliki kesempatan untuk melihat Anne. Keajaiban terjadi lagi, Anne tetap bertahan hidup setelah lewat 2 jam. Memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi keluarga tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan. Tetapi Anne tidak mampu bertahan setelah enam jam…..

Para dokter bekerja cepat untuk melakukan prosedur pendonoran organ. Setelah beberapa minggu, dokter menghubungi pasangan tsb bahwa donor tsb berhasil. Dua bayi berhasil diselamatkan dari kematian. Pasangan tersebut sekarang sadar akan kehendak Tuhan. Walaupun Anne hanya hidup selama 6 jam, tetapi dia berhasil menyelamatkan dua nyawa. Bagi pasangan tersebut, Anne adalah pahlawan mereka, dan sang Anne yang mungil akan hidup dalam hati mereka selamanya…

Ada 3 point penting yang dapat kita renungkan dari kisah ini:
1. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama kita hidup, satu hari ataupun bahkan seratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang kita telah kita lakukan selama hidup kita, yang bermanfaat bagi orang lain.

2. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama perusahaan kita telah berdiri, satu tahun ataupun bahkan dua ratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang dilakukan perusahaan kita selama ini, yang bermanfaat bagi orang lain.

3. Ibu Anne mengatakan “Hal terpenting bagi orang tua bukanlah mengenai bagaimana karier anaknya di masa mendatang, dimana mereka tinggal, maupun berapa banyak uang yang mampu mereka hasilkan. Tetapi hal terpenting bagi kita sebagai orang tua adalah untuk memastikan bahwa anak2 kita melakukan hal2 terpuji selama hidupnya, sehingga ketika kematian menjemput mereka, mereka akan menuju surga”.

Kebosanan

Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.

Tamu :"Sebenarnya apa itu perasaan 'bosan', pak tua?"

Pak Tua :
"Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu."

Tamu :"Kenapa kita merasa bosan?"

Pak Tua :"Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki."

Tamu :"Bagaimana menghilangkan kebosanan?"

Pak Tua : "Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya."

Tamu :"Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?"


Pak Tua:"Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?"

Tamu :"Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua."

Pak Tua :"Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang."

Tamu: "Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?"

Pak Tua :
"Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya."

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.

Tamu :"Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?"

Pak Tua :"Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan."

Tamu :"Contohnya? "

Pak Tua :"Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu."

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.



Tamu :

"Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain
sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaibanpun terjadi.
Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?"


Sambil tersenyum Pak Tua berkata:


"Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria."

Kemiskinan

Di era global ini, salah satu kata yang sangat populer adalah kemiskinan. Coba perhatikan ketika masa kampanye pada pemilu dpr dan presiden kemarin. Banyak partai dan capres yang menjadikan pengentasan kemiskinan sebagai daya tarik. Rebutan iklan bantuan langsung tunai bagi khalayak miskin pun jadi rebutan parpol. Bahkan pasangan Mega-Prabowo membuat deklarasi di Tempat Pembuangan Sampah yang dipahami sebagai salah satu simbol kemiskinan.

Sejak paruh kedua abad XX, kemiskinan meperoleh perhatian dari berbagai kalangan di dunia. Banyak pemikiran dan usaha dicurahkan, keringat dicucurkan untuk memerangi kemiskinan demi terwujudnya impian lahirnya masyarakat sejahtera. Saking bersemangatnya, Orde Baru pun menamai kabinetnya dengan sebutan kabinet pembangunan, sebagai manifestasi dari komitmen yang tinggi untuk memerangi kemiskinan. Di Amerika Latin pun berkembang apa yang dinamakan teologi kemakmuran. Pancaran kasih Tuhan ada dalam eksistensi kemakmuran, dan Pancaran cinta setan ada dalam eksistensi kemiskinan.
Naga-naganya, perang terhadap kemiskinan belum akan segera berakhir.


Ketika pembangunan gagal menciptakan masyarakat sejahtera, berbagai ahli mencoba mencari tahu penyebabnya. Ahli dari Dunia Ketiga mengajukan pemikiran bahwa kemiskinan negara-negara bekas jajahan terutama disebabkan oleh kolonisasi dan ketergantungan. Selama masa kolonisasi, negara penjajah menguras semua potensi, baik ekonomi, sosial maupun kultural, sehingga masyarakat jajahan menjadi kaum miskin abadi. Ketika kemerdekaan dapat diproklamasikan, negara penjajah tetap melakukan pengurasan melalui neo-kolonialisme atau penjajahan jarak jauh. Dengan berodal uang, ilmu dan teknologi, negara-negara penjajah menjadikan Dunia Ketiga sebagai sapi perahan yang wajib menyetorkan susu kepada bos.

Tuduhan kaum intelektual Dunia Ketiga yang menjadikan Dunia Pertama sebagai tokoh antagonis, tentu tidak dapat diterima. Sebaliknya mereka mengajukan pikiran tandingan bahwa kemiskinan Dunia Ketiga adalah karena budayanya yang mistik, malas, tradisional dan statis. Solusi yang ditawarkan pun jelas, yaitu mengembangkan kebudayaan dunia ketiga menjadi legal-rasional dan progresif. Makanya jangan heran kalau kemudian muncul program pengembangan enterpreneurship di dunia pendidikan Indonesia, bahkan pakai bintang cantik Dian Sastro sebagai ikonnya. Banyak lagi program yang disusun untuk mengubah konstruk mental, agar paling tidak tetap menjadi pengikut setia arahan Dunia Pertama.
Benarkah kemiskinan merupakan sesuatu yang najis, sehingga perlu dihindari oleh seluruh umat manusia? Dalam Etika Protestan, sikap utama yang ditonjolkan adalah miskin. Kepercayaan mereka berinti pada pandangan bahwa semua harta dan segala benda di dunia ini adalah milik Tuhan, sehingga manusia wajib menjaga dan mengembangkannya dengan taruhan jiwa dan raga. Bukan berarti tidak boleh mengkonsumsi benda milik Tuhan. Manusia boleh memakannya, meminumnya atau apa saja sebatas untuk mempertahankan hidup. Yang dilarang adalah menikmatinya atau menyamankan diri dengan menggunakan milikNya.

Kerja keras untuk proyek pengembangan harta Tuhan inilah yang kemudian melahirkan bullionisme dan merkantilisme di jaman berikutnya. Apresiasi tinggi terhadap harta Tuhan diwujudkan dengan mengembangkan sebanyak mungkin dengan mengkonsumsi sesedikit mungkin. Dengan menjadi miskin, manusia sesungguhnya akan mampu mengembangkan kekayaan berlimpah, kekayaan milik Tuhan. Orang Indonesiapun sebenarnya memiliki ajaran itu, bahkan jauh sebelum orang Protestan, yaitu laku prihatin. Kerja keras, tetapi sesedikit mungkin mengolah dan memanfaatkan alam untuk kepentingan pribadi.

Dua khasanah pemikiran menempatkan kemiskinan dalam posisi yang mulia. Dengan kemiskinan, harga diri manusia tidak lagi dilekatkan pada benda-benda duniawi, tetapi semata kepada ketulusan hati dan kebersihan jiwa. Relasi antar manusia pun jauh dari pemikiran transaksi ekonomi. Orang lain direngkuhnya sebagai saudara atau dalam bahasa Latin sebagai socius. Kehidupan masyarakatpun berlangsung dalam damai harmoni dengan sesama dan alam.

Tidak hanya mulia, kemiskinan juga merupakan wujud tertinggi kesetiaan manusia kepada Tuhan Sang Pencipta. Dalam kitab kuno dicatat bahwa orang miskin adalah pemilik kunci surga. Dengan menjalani hidup miskin, manusia dapat mencapai makrifat,karena mampu menghindar dari pikiran dan tindakan menyombongkan diri serta merugikan orang lain dan alam. Dia akan menjadi manusia mulia tidak hanya disisi allam, dan sesama, tetapi juga di mata Tuhan. Manusia tidak perlu menebang hutan berjuta hektar, tidak perlu mengeruk batu bara. Manusia juga terhindar dari sifat mencari keuntungan pribadi dengan memeras keringat atau mengeksploatasi saudara dan tetangga. Hanya dengan kemiskinan, manusia dapat sepenuhnya hidup demi sebesar-besarnya kemuliaan Tuhan: Ad maiorem dei gloriam.


Sastro Sukamiskin

sukses adalah proses

Ketika saya kecil saya sering di ceritakan orang-orang sukses. Orang tua selalu menyuruh untuk mencontoh orang-orang yang sudah berhasil. Dan hampir semua orang yang sukses adalah orang yang kaya. Jadi saya pun sedikit berkesimpulan orang yang sukses adalah orang yang kaya. Lalu kenapa tidak melihat pemulung, pengumpul barang bekas, pengrajin gerabah.

Tapi saya ga heran kalau seorang direktur naik mobil-mobil mewah. Tapi yang saya heran seorang pengumpul barang bekas naik mobil mewah rumahnya megah walau di belakang rumah penuh tumpukan barang bekas. waktu kecil saya melihat rumah si pengumpul ini hanya bertembokan gedek (anyaman bambu) dah sangat kumuh. dan suatu proses bagai mana mulai dari pondasi ia bangun. tembok mulai ia tata, reng-usuk mulai merangkai atap rumah itu. Jauh lebih terlihat kesuksesannya ketimbang seorang yang naik mobil mewah di gandeng cewek-cewek cantik. tapi semua warisan dari orang tuanya.

Sukses memang terkadang terukur dari harta. namun sukses menurut saya adalah terukur dai perjuangannya, usahanya. orang tidak akan di sebut kaya kalau tidak ada orang miskin. Saya kadang berbangga dengan motor yang saya kendarai ketika teman-teman masih naik sepeda ke sekolah. Namun saya heran, dan saya sangat tidak bangga ketika mereka bisa memperhatikan pelajaran, tanpa rasa letih, namun saya tertidur di kelas.Walau ahirnya saya lulus sekolah namun saya katakan saya tidak sukses. saya sudah mendapatkan lebih dari orang lain. namun saya tidak bisa menjadi pribadi yang lebih dari orang lain.

Mulailah sukses dari perjuangan, bukan dari modal harta. Tuhan menciptakan manusia beserta otak yang super cerdas. BUatlah sukses dari sekrang. karena sukses adalah proses.