Militer Dibalik Layar Kerusuhan Mei 1998

kerusuhan mei 1998
Saya pernah menulis tentang kerusuhan ini beberapa waktu lalu link. Banyak tulisan dan analisis masing-masing orang. dari beberapa yang saya baca berikut garis bawah kerusuhan Mei 1998.
Rivalitas Prabowo & Wiranto mewarnai politik internal ABRI jelang kerusuhan Mei 1998. Persaingan sampai ke puncaknya paska kerusuhan. Keduanya sama-sama punya kepetingan atas tragedi Mei 1998.
Menurut data dari Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK) dan diperkuat hasil penyelidikan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) , kelompok tersebut sangat sulit di identifikasi namun mempunyai banyak kesamaan, yaitu: a. berpakaian seragam sekolah b. berbadan tegap, ramput cepak, memakai sepatu boot (militer) dengan wajah sangar c. mempersiapkan berbagai perlengkapan kerusuhan seperti batu, cairan pembakar dan alat pembakar, mereka di tempatkan dengan menggunakan alat transportasi seperti truk dan kendaran bermotor lainnya.

Prabowo melaksanakan dengan melakukan penculikan, intimidasi, dan pembunuhan para aktifis dan mahasiswa “militan” itu, dilaksanakan oleh pendukung setianya seperti: Kivlan Zein (dijuluki Mayjen “Kunyuk” oleh Gus Dur), Muchdi, Sjafrie Syamsuddin, Zakky Makarim, dll. Didukung oleh Feisal Tandjung.
Namun ada temuan lain yang menyatakan "Kivlan Zen sudah menyiapkan Pam Swakarsa ( kelak melebur jadi FPI ) sebagai bagian dari skenario utk hadapi demo rakyat. Perintah menggalang massa diberikan oleh Wiranto. Dia panggil Kivlan Zen utk meminta dana dari Setiawan Jody."

Dari situ terlihat keduanya memiliki ambisi masing-masing. Saya anggap keduanya menjadi dalang kerusuhan dengan jalan masing masing.

Jendral TNI (PURN) Wiranto

Masing ingat cara Suharto menduduki RI 1? Begitu juga dengan wiranto. Saya justru memiliki teori bahwa Wiranto menggunakan kesempatan kerusuhan Mei 1998 untuk mendiskreditkan Prabowo. Ia memperbesar kerusuhan di bulan Mei 1998, kemudian mengkambinghitamkan Prabowo dengan operasi intelijen, sehingga saingannya tersingkir. Ia menunggangi kerusuhan tersebut untuk meraih kekuasaan, persis Soeharto menunggangi(kalau tidak mendalangi) pembunuhan jenderal 30 September 1965. Memang Soeharto lebih keji karena ia tega membunuh operator lapangannya sendiri, Letkol Untung. Wiranto berhasil keluar dari kasus Mei 1998 sebagai pahlawan, persis seperti Soeharto yang menjadi pahlawan dalam kasus G30S.

Soeharto lebih percaya Wiranto. Ia memberikan surat Komando Operasi Kewaspadaan dan Keselamatan Nasional pada Wiranto. Ini semacam surat pelimpahan kekuasaan yang memberikan kekuasaan tanpa batas, kepada Wiranto. Just In case.Soeharto mewanti wanti Wiranto. “ Mbok menowo mengko ono gunane – siapa tahu kelak ada gunanya.
Dalam quote dia atas terlihat selayaknya super semar. Mengapa tidak ia gunakan? jelas terlihat kemarahan rakyat. Jika dilakukan hal itu justru memojokannya dalam situasi yang lebih buruk.


Letjen (pur) Prabowo Subianto

Sudah banyak tulisan yang membuktikan atau meletakkan masalah 1998 pada Prabowo. Tujuan lain Prabowo dengan memperluas kerusuhan adalah untuk mendiskreditkan Wiranto agar dianggap tidak becus oleh Soeharto dalam mengisolasikan kerusuhan sehingga Wiranto diturunkan dan diganti Prabowo yang seolah-olah melalui anak buahnya Sjafrie Sjamsuddin (Pangdam V Jaya waktu itu) berhasil mengatasi situasi di hari ke-4 dengan berkeliling naik panser.
Mengapa harus Prabowo? Prabowo sudah luas dikenal sebagai sosok ambisius. Dia memiliki berbagai sarana untuk menyulut kerusuhan itu. Dengan posisinya, dia juga mampu memerintahkan beberapa pemuda yang tak berdaya melawan perintah, termasuk beberapa oknum dari organisasi paramiliter yang dikenal jago menyulut kerusuhan.
Beberapa pakar berpendapat kopassus ada di balik kerusuhan yang notabennya anak didik Prabowo.


Namun dari kesemuanya banyak hal masih di tutupi. Siapa yang salah saya rasa dari awal pak Harto sudah salah. Kerugian nyawa telah terhapus oleh detak kagum revolusi Indonesia. butuh 100 tahun lagi untuk membentuk Indonesia yang mandiri terlepas dari kekuasaan asing. Masa reformasi saat ini adalah bagian yang tak terpisahkan. Untuk kedua purnawirawan jangan harap anda menjadi presiden. Sekecil apapun keduanya telah melakukan kesalahan, bukan hukum yang menghukum, tapi waktu yang menghukum.

0 komentar:

Poskan Komentar